Seberapa jauh obsesi dapat merasuki seseorang sampai ia kehilangan dirinya sendiri? Pertanyaan itu terasa mengemuka ketika menyimak Bayu (Angga Yunanda), tokoh utama dalam film Para Perasuk (2026), mengubah seni yang ia cintai menjadi obsesi yang justru membuatnya lupa mengapa ia mencintai seni tersebut sedari awal. Film Para Perasuk berlatar di Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, yang berjarak dua jam dari Jakarta. Alkisah, warga Latas biasa mengadakan hajatan kerasukan yang mereka sebut sebagai Pesta Sambetan. Alih-alih menjadikan kesurupan massal sebagai hiburan yang mengerikan, warga Latas justru menjadikan Pesta Sambetan sebagai perayaan yang menyenangkan. Pengiring musik di pesta itu dijuluki para perasuk. Musik yang mereka mainkan menyalurkan roh hewan pada para pelamun, peserta pesta yang kerasukan. Terdapat 20 roh yang “memabukkan” pelamun, seperti roh bulus yang mengubah pukulan rotan menjadi pijatan, roh kupu-kupu yang menerbangkan pelamun ke taman bunga, hing...
Aku tidak memilih lahir di rumah itu. Rumah di mana papan aturan dipaku rapat di dinding. Tidak berhak dilepas, apalagi dilanggar. Rumah di mana papan aturan dipajang tinggi. Suci, tidak dikotori debu. Peraturan itu dilafalkan dengan lantang, memantul di lorong, menggema di sudut ruangan, mengendap di atap. Volumenya terlampau keras, bahkan menenggelamkan suaraku. Aku tidak mengerti mengapa penghuni rumah itu memampangkan papan aturan. Sebab, tiap kutanya untuk apa aku ikuti aturan itu, mereka selalu menjawabku dengan sebuah kalimat, “Sudahlah, patuhi saja. Kalau tidak, kita akan dihukum.” Kalimat itu diulang lima kali sehari, bagai dering alarm yang mengingatkan penghuninya akan hukuman. *** Penghuni rumah itu melempar selembar kain pada rambut yang kurawat sepenuh hati, “Tutupi! Kau tidak boleh mengekspresikannya.” Pakaian pendekku dipaksa menghilang ke dasar lemari, “Jangan sampai penghuni laki-laki melihatmu mengenakannya.” Seakan perempuan sepertiku dikutuk han...