Aku tidak memilih lahir di rumah itu. Rumah di mana papan aturan dipaku rapat di dinding. Tidak berhak dilepas, apalagi dilanggar. Rumah di mana papan aturan dipajang tinggi. Suci, tidak dikotori debu. Peraturan itu dilafalkan dengan lantang, memantul di lorong, menggema di sudut ruangan, mengendap di atap. Volumenya terlampau keras, bahkan menenggelamkan suaraku. Aku tidak mengerti mengapa penghuni rumah itu memampangkan papan aturan. Sebab, tiap kutanya untuk apa aku ikuti aturan itu, mereka selalu menjawabku dengan sebuah kalimat, “Sudahlah, patuhi saja. Kalau tidak, kita akan dihukum.” Kalimat itu diulang lima kali sehari, bagai dering alarm yang mengingatkan penghuninya akan hukuman. *** Penghuni rumah itu melempar selembar kain pada rambut yang kurawat sepenuh hati, “Tutupi! Kau tidak boleh mengekspresikannya.” Pakaian pendekku dipaksa menghilang ke dasar lemari, “Jangan sampai penghuni laki-laki melihatmu mengenakannya.” Seakan perempuan sepertiku dikutuk han...
30 Juni 2026. Aku bergelut dengan UAS sialan itu, dan masih ada kertas UAS lain yang menumpuk di mejaku. Sembari mendengar tembang This Time Last Year yang dialunkan oleh Rina Sawayama, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang menghentikanku dari pengerjaan UAS. Ya, aku memang disibukkan dengan UAS pertengahan tahun ini. Tetapi setidaknya, kegiatan ini menghindariku dari keinginan untuk bunuh diri. Aku pun terbawa pada apa yang terjadi pada pertengahan tahun lalu. 18 Juli 2025. "Kamulah pilot yang melihat pesawat lain sudah terbang ke negara lain. 'Hebat, ya, pesawat dia sudah ada di Jepang. Eh, pesawat itu sudah di Jerman,' sedangkan pesawatmu? Stuck , lepas landas pun belum," ucap psikolog yang menanganiku, Kak Kori. Tiada analogi yang tepat menggambarkanku selain itu, karena membandingkan diri dengan yang lain adalah penyakit yang pernah menggerogoti tubuhku. "I'm too busy thinking people hate me without realizing that I'm my number one hater!" S ...