Langsung ke konten utama

Postingan

Apakah Mengikuti Organisasi Itu Bermanfaat?

Beberapa waktu lalu, jagat maya diramaikan dengan perdebatan satu mahasiswa non-organisasi dan lima mahasiswa organisasi di kanal YouTube Official 229TV. Perdebatan tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi dari kegelisahan di kalangan mahasiswa. Debat itu meninggalkan jejak pertanyaan, apakah mengikuti organisasi benar-benar bermanfaat, atau justru malah membuang waktu? Dalam video berdurasi 44 menit itu, mahasiswa non-organisasi bersikeras bahwa pengembangan diri lebih efektif — bahkan hanya bisa — dilakukan di luar organisasi. Klaim ini tampak meyakinkan, terutama bagi mahasiswa yang pernah terlibat dalam organisasi yang tidak berjalan optimal. Namun, menjadikan pengalaman pribadi sebagai generalisasi justru terlalu menyederhanakan realitas karena persoalan pengembangan diri tidak terbatas pada organisasi versus non-organisasi. Masalah dalam perdebatan ini terletak pada cara memaknai manfaat. Saat berdebat, mahasiswa non-organisasi menggarisbawahi bahwa organisasi tida...
Postingan terbaru

Sinners — Film yang Menghibur Tanpa Kritik yang Mengabur

Sinners (2025) mencetak sejarah sebagai film dengan nominasi Oscar terbanyak sepanjang masa. Pada ajang Academy Awards 2026, film ini berlaga pada 16 nominasi, satu di antaranya adalah nominasi Best Picture. Berlatar belakang di Mississippi pada tahun 1932, Sinners mengisahkan tentang saudara kembar bernama Smoke dan Stack (keduanya diperankan oleh Michael B. Jordan) yang hendak membangun Juke Joint, yaitu klub hiburan malam khusus kulit hitam. Semula, malam pembuka Juke Joint mereka berjalan lancar. Namun seketika, malam itu berubah menjadi tragedi yang memengaruhi hidup semua yang ada di dalamnya.   Pengenalan Karakter Pengenalan karakter di film ini terbilang cukup lama. Sejak awal hingga pertengahan film, benak saya bertanya, mengapa konfliknya masih abstrak? Di manakah adegan horor yang dijanjikan oleh genre film ini? Dua pertanyaan tersebut terjawab selepas saya menontonnya. Saya menyadari bahwa durasi yang cukup lama memang dibutuhkan untuk membangun penokoha...

The End of the F***ing World is the End of My Teenage Life

Hiya. I wanna talk about my all-time favourite series, The End of the F***ing World (2017-2019). I watch this series for like... Seven times, I suppose? When I’m a high schooler, I always go back to this series each time I’m depressed. It feels like a comfort show at some point. A bit fucked up, innit? In case you haven’t watched it yet, The End of the F***ing World tells a story about a rebellious 17 year-old, Alyssa (Jessica Barden) who runs away with a random boy she sees at school, James (Alex Lawther). He’s willing to go out with her because he has the intention to murder her, but they soon develop feelings for each other. Later on, we find out that both of the main characters have trauma issues from their pasts. The point I’m about to write down in this text is that some watchers say Alyssa would be so unlikeable in real life. But I think that’s what happens when you’re a misunderstood teenager. Like she said in the seventh episode of season two, “I don’t know, we were 17.”...

Bulan untuk Harlan

And if I could give you the moon, I would give you the moon Phoebe Bridgers - Moon Song   Harlan dan bulan, dua kata dengan rima yang sama. Harlan menaruh rasa kagum pada bulan. Apa pun tentang bulan selalu ia amati dengan seksama. Setiap bulan menampakkan diri di atas langit, Harlan selalu memotretnya.   Malam di Balkon Kafetaria Malam itu, di balkon kafetaria, angin sepoi-sepoi menyentuh rambut belah tengah Harlan secara lembut. Cuaca saat itu dingin, namun Herlan setia mengenakan kaos oblong putihnya. Aku mendapati Harlan melihat cahaya bulan dengan mata berbinar. Tak pernah Herlan menatapku dengan tatapan yang berbinar seperti itu. “Fibi, sebentar, ya. Sebelum kita meninggalkankan jejak di kafetaria ini, aku ingin mengabadikan momen bulan itu terlebih dahulu,” ucap Harlan. “Sudah berapa banyak foto bulan yang kau simpan di galeri ponselmu?” Tanyaku. “Haha, banyak sekali. Aku memang sesuka itu pada bulan.” “Alasan apa yang membuatmu menyukai bulan?” “K...

Perilisan Man's Best Friend: Ketika Album Galau Dikaitkan Politik yang Kacau

Akhir Agustus lalu, warga Indonesia diributkan oleh kelakuan politisi — terutama politisi pria — yang membuat geleng-geleng kepala. Di waktu yang bersamaan, penyanyi kenamaan Sabrina Carpenter merilis album barunya, Man’s Best Friend . Album itu Carpenter dedikasikan kepada pria yang menyakitinya. Alih-alih mengaitkan dengan isu serupa, warganet malah mengasosiasikan album itu dengan keputusan bodoh yang dibuat oleh politisi pria.   Pembahasan Manchild : Saat Politikus Blunder dibalas Lagu Carpenter Ada dua lagu di album ini yang paling menyeret perhatian warganet, satu di antaranya adalah Manchild . Di lagu itu, ada lirik yang berbunyi, “It’s all just so familiar. Baby, what do you call it? Stupid, or is it slow? Maybe, it’s useless? But there’s a cuter word for it, I know, manchild.” Dilansir dari kamus Cambridge, man-child berarti seorang pria dewasa yang tidak berperilaku tenang, serius, atau bijaksana seperti yang diharapkan dari seseorang seusianya. Dalam lagu itu, Car...