Foto: Pinterest “Hukma dan Zahra, penampilan kalian bagus!” Pujian tersebut dilontarkan oleh beberapa masyarakat filsafat sesaat setelah kami membawakan kisah Peternakan Hewan di atas panggung. Alih-alih menerima pujian mereka, kami malah meyakini hal lain. Menurut keyakinan kami, bila George Orwell menyaksikan adaptasi versi kami, ia akan menutup wajahnya dengan rasa malu sembari bertanya, “Apa yang mereka lakukan terhadap ceritaku?” Masalahnya, persiapan kami minim sekali. Kurangnya waktu latihan mengakibatkan kami lupa akan dialog masing-masing. Suasana pun mendadak hening, menyisakan dua pendongeng yang saling menatap mata secara canggung, seraya berusaha mengingat dialog apakah yang seharusnya diucapkan. Berbanding terbalik dengan pujian yang disampaikan oleh kawan-kawan kami, kami malah tidak puas dengan penampilan sendiri. Ekspektasi “kita akan memasak hari ini” menjelma menjadi ilusi yang membakar kami hingga gosong. Saking tidak puasnya dengan pementasan yang terletak ...
Setiap tahunnya pada tanggal pertama bulan Mei, poster-poster berisi tuntutan terhadap hak-hak buruh ramai memenuhi media sosial. Peringatan perjuangan para pekerja menjadi salah satu seruan yang paling lantang disuarakan, termasuk oleh mahasiswa. Akan tetapi, di tengah seruan itu, ada ironi yang berjarak dekat, bahkan hanya beberapa meter dari ruang kelas mereka sendiri. Mahasiswa menuntut kesejahteraan buruh di jalanan, namun terkadang mereka lupa siapa yang membereskan sampah mereka selepas jam makan siang, dan berterima kasih karenanya. Buku-buku tentang sosialisme menyelinap di dalam rak perpustakaan. Para mahasiswa membaca dan mengilhaminya, namun ingatkah mereka siapa yang membersihkan debu dari rak buku itu? Di lingkungan kampus, buruh tidak selalu terpampang dalam spanduk demonstrasi ataupun pembahasan Marxisme di dalam kelas. Buruh hadir dalam seragam office boy (OB) yang melayani sivitas akademika hingga larut malam, serta menata fasilitas agar siap digunakan pada keesokan ...