Langsung ke konten utama

Postingan

Menjaga Kebersihan di Tengah Ketidakpedulian

Setiap tahunnya pada tanggal pertama bulan Mei, poster-poster berisi tuntutan terhadap hak-hak buruh ramai memenuhi media sosial. Peringatan perjuangan para pekerja menjadi salah satu seruan yang paling lantang disuarakan, termasuk oleh mahasiswa. Akan tetapi, di tengah seruan itu, ada ironi yang berjarak dekat, bahkan hanya beberapa meter dari ruang kelas mereka sendiri. Mahasiswa menuntut kesejahteraan buruh di jalanan, namun terkadang mereka lupa siapa yang membereskan sampah mereka selepas jam makan siang, dan berterima kasih karenanya. Buku-buku tentang sosialisme menyelinap di dalam rak perpustakaan. Para mahasiswa membaca dan mengilhaminya, namun ingatkah mereka siapa yang membersihkan debu dari rak buku itu? Di lingkungan kampus, buruh tidak selalu terpampang dalam spanduk demonstrasi ataupun pembahasan Marxisme di dalam kelas. Buruh hadir dalam seragam office boy (OB) yang melayani sivitas akademika hingga larut malam, serta menata fasilitas agar siap digunakan pada keesokan ...
Postingan terbaru

Para Perasuk — Saat Obsesi Merasuki Diri

Seberapa jauh obsesi dapat merasuki seseorang sampai ia kehilangan dirinya sendiri? Pertanyaan itu terasa mengemuka ketika menyimak Bayu (Angga Yunanda), tokoh utama dalam film Para Perasuk (2026), mengubah seni yang ia cintai menjadi obsesi yang justru membuatnya lupa mengapa ia mencintai seni tersebut sedari awal. Film Para Perasuk berlatar di Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, yang berjarak dua jam dari Jakarta. Alkisah, warga Latas biasa mengadakan hajatan kerasukan yang mereka sebut sebagai Pesta Sambetan. Alih-alih menjadikan kesurupan massal sebagai hiburan yang mengerikan, warga Latas justru menjadikan Pesta Sambetan sebagai perayaan yang menyenangkan. Pengiring musik di pesta itu dijuluki para perasuk. Musik yang mereka mainkan menyalurkan roh hewan pada para pelamun, peserta pesta yang kerasukan. Terdapat 20 roh yang “memabukkan” pelamun, seperti roh bulus yang mengubah pukulan rotan menjadi pijatan, roh kupu-kupu yang menerbangkan pelamun ke taman bunga, hing...

Rumah Itu

Aku tidak memilih lahir di rumah itu. Rumah di mana papan aturan dipaku rapat di dinding. Tidak berhak dilepas, apalagi dilanggar. Rumah di mana papan aturan dipajang tinggi. Suci, tidak dikotori debu. Peraturan itu dilafalkan dengan lantang, memantul di lorong, menggema di sudut ruangan, mengendap di atap. Volumenya terlampau keras, bahkan menenggelamkan suaraku.   Aku tidak mengerti mengapa penghuni rumah itu memampangkan papan aturan. Sebab, tiap kutanya untuk apa aku ikuti aturan itu, mereka selalu menjawabku dengan sebuah kalimat, “Sudahlah, patuhi saja. Kalau tidak, kita akan dihukum.” Kalimat itu diulang lima kali sehari, bagai dering alarm yang mengingatkan penghuninya akan hukuman.   ***   Penghuni rumah itu melempar selembar kain pada rambut yang kurawat sepenuh hati, “Tutupi! Kau tidak boleh mengekspresikannya.” Pakaian pendekku dipaksa menghilang ke dasar lemari, “Jangan sampai penghuni laki-laki melihatmu mengenakannya.” Seakan perempuan sepertiku dikutuk han...

This Time Last Year

30 Juni 2026. Aku bergelut dengan UAS sialan itu, dan masih ada kertas UAS lain yang menumpuk di mejaku. Sembari mendengar tembang This Time Last Year yang dialunkan oleh Rina Sawayama, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang menghentikanku dari pengerjaan UAS. Ya, aku memang disibukkan dengan UAS pertengahan tahun ini. Tetapi setidaknya, kegiatan ini menghindariku dari keinginan untuk bunuh diri. Aku pun terbawa pada apa yang terjadi pada pertengahan tahun lalu.   18 Juli 2025. "Kamulah pilot yang melihat pesawat lain sudah terbang ke negara lain. 'Hebat, ya, pesawat dia sudah ada di Jepang. Eh, pesawat itu sudah di Jerman,' sedangkan pesawatmu? Stuck , lepas landas pun belum," ucap psikolog yang menanganiku, Kak Kori. Tiada analogi yang tepat menggambarkanku selain itu, karena membandingkan diri dengan yang lain adalah penyakit yang pernah menggerogoti tubuhku.   "I'm too busy thinking people hate me without realizing that I'm my number one hater!...

This Slow Burn is Slowly but Surely and It's Not Slowly Burning Me

Just like what Kacey Musgraves sang on her song titled Slow Burn , "I know a few things, but I still got a lot to learn," I'm tattooing that lyric on my brain like I mean it. Each time I tell my dad about my journey, he always says, "This is already enough for someone who learns," hence why I believe that if authors could write romance stories with a slow burn trope, I could write the story of my life with the same trope too. Throughout my whole life, I never really knew who I would become because... You know, I'm not the type of person who knew from the start what I would do. Well I guess I'll just keep on trying. At least my dad promised me that I'm going somewhere, even though I don't know where to go... Yet. During my school days, I was always in a hurry, expecting the result to come quickly, as if there was no time left. As I grow older (hopefully wiser too), I realize that I have a lifetime to learn, so why would I go in a rush anyway? That...

Apakah Mengikuti Organisasi Itu Bermanfaat?

Beberapa waktu lalu, jagat maya diramaikan dengan perdebatan satu mahasiswa non-organisasi dan lima mahasiswa organisasi di kanal YouTube Official 229TV. Perdebatan tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi dari kegelisahan di kalangan mahasiswa. Debat itu meninggalkan jejak pertanyaan, apakah mengikuti organisasi benar-benar bermanfaat, atau justru malah membuang waktu? Dalam video berdurasi 44 menit itu, mahasiswa non-organisasi bersikeras bahwa pengembangan diri lebih efektif — bahkan hanya bisa — dilakukan di luar organisasi. Klaim ini tampak meyakinkan, terutama bagi mahasiswa yang pernah terlibat dalam organisasi yang tidak berjalan optimal. Namun, menjadikan pengalaman pribadi sebagai generalisasi justru terlalu menyederhanakan realitas karena persoalan pengembangan diri tidak terbatas pada organisasi versus non-organisasi. Masalah dalam perdebatan ini terletak pada cara memaknai manfaat. Saat berdebat, mahasiswa non-organisasi menggarisbawahi bahwa organisasi tida...

Sinners — Film yang Menghibur Tanpa Kritik yang Mengabur

Sinners (2025) mencetak sejarah sebagai film dengan nominasi Oscar terbanyak sepanjang masa. Pada ajang Academy Awards 2026, film ini berlaga pada 16 nominasi, satu di antaranya adalah nominasi Best Picture. Berlatar belakang di Mississippi pada tahun 1932, Sinners mengisahkan tentang saudara kembar bernama Smoke dan Stack (keduanya diperankan oleh Michael B. Jordan) yang hendak membangun Juke Joint, yaitu klub hiburan malam khusus kulit hitam. Semula, malam pembuka Juke Joint mereka berjalan lancar. Namun seketika, malam itu berubah menjadi tragedi yang memengaruhi hidup semua yang ada di dalamnya.   Pengenalan Karakter Pengenalan karakter di film ini terbilang cukup lama. Sejak awal hingga pertengahan film, benak saya bertanya, mengapa konfliknya masih abstrak? Di manakah adegan horor yang dijanjikan oleh genre film ini? Dua pertanyaan tersebut terjawab selepas saya menontonnya. Saya menyadari bahwa durasi yang cukup lama memang dibutuhkan untuk membangun penokoha...

The End of the F***ing World is the End of My Teenage Life

Hiya. I wanna talk about my all-time favourite series, The End of the F***ing World (2017-2019). I watch this series for like... Seven times, I suppose? When I’m a high schooler, I always go back to this series each time I’m depressed. It feels like a comfort show at some point. A bit fucked up, innit? In case you haven’t watched it yet, The End of the F***ing World tells a story about a rebellious 17 year-old, Alyssa (Jessica Barden) who runs away with a random boy she sees at school, James (Alex Lawther). He’s willing to go out with her because he has the intention to murder her, but they soon develop feelings for each other. Later on, we find out that both of the main characters have trauma issues from their pasts. The point I’m about to write down in this text is that some watchers say Alyssa would be so unlikeable in real life. But I think that’s what happens when you’re a misunderstood teenager. Like she said in the seventh episode of season two, “I don’t know, we were 17.”...