Langsung ke konten utama

Bulan untuk Harlan

And if I could give you the moon, I would give you the moon

Phoebe Bridgers - Moon Song

 

Harlan dan bulan, dua kata dengan rima yang sama. Harlan menaruh rasa kagum pada bulan. Apa pun tentang bulan selalu ia amati dengan seksama. Setiap bulan menampakkan diri di atas langit, Harlan selalu memotretnya.

 

Malam di Balkon Kafetaria

Malam itu, di balkon kafetaria, angin sepoi-sepoi menyentuh rambut belah tengah Harlan secara lembut. Cuaca saat itu dingin, namun Herlan setia mengenakan kaos oblong putihnya. Aku mendapati Harlan melihat cahaya bulan dengan mata berbinar. Tak pernah Herlan menatapku dengan tatapan yang berbinar seperti itu.

“Fibi, sebentar, ya. Sebelum kita meninggalkankan jejak di kafetaria ini, aku ingin mengabadikan momen bulan itu terlebih dahulu,” ucap Harlan.

“Sudah berapa banyak foto bulan yang kau simpan di galeri ponselmu?” Tanyaku.

“Haha, banyak sekali. Aku memang sesuka itu pada bulan.”

“Alasan apa yang membuatmu menyukai bulan?”

“Kata apa yang bisa menggambarkan rasa sukaku pada bulan selain ‘indah’?”

“Kau mau bulan?”

“Maksudmu?” Mendengarnya, Harlan segera melepas fokusnya dari layar kamera, lalu mengalihkan pandangannya padaku.

“Aku akan memberikannya padamu,” ucapku dengan penuh yakin.

“Bagaimana caranya?” Harlan tampak keheranan.

“Akan kupanjat tangga tertinggi, kemudian akan kuambil bulan itu untukmu.”

“Kau bercanda, Bi?”

“Tidak, Lan. Kau akan mengerti nanti.”

Suasana malam itu ditutupi dengan kebingungan bagi Harlan, namun diawali dengan harapan bagiku. Tanpa Harlan sadari, aku mencintainya. Aku tak main-main soal pemberian bulan itu. Akan benar-benar kutangkap bulan yang ia sukai, sebagai bukti bahwa aku menyayanginya.

 

Pertemuan dengan Sang Penyihir

Perjalanan pengambilan bulan dimulai dengan pertemuanku dengan Sang Penyihir.

“Apa yang kau inginkan, Nona Muda?” Saat kutemui di markas sihir ungunya, Sang Penyihir langsung melemparkan sebuah pertanyaan padaku.

“Aku ingin membeli tangga yang paling tinggi darimu dan akan kupakai tangga itu untuk mengambil bulan.”

“Apakah kau serius?”

“Ya, sebutkan saja nominalnya berapa.”

“Ini bukan tentang jumlah uang yang harus kau keluarkan, Nona. Bulan hanya bisa diambil oleh satu hal: tenaga. Sekarang, pertanyaanku: sanggupkah tenagamu menjalani proses pengambilan bulan yang berliku-liku itu?”

Sang Penyihir berusaha mewanti-wantiku, namun apa daya? Rasa cintaku pada Harlan melebihi risiko yang ada. Aku pun mengiyakan yang Sang Penyihir tanyakan padaku, “Aku sanggup.”

“Baiklah, ini tangganya. Tangga ini akan bertambah tinggi jika kau punya energi yang cukup untuk memijakinya.” Sang Penyihir lantas memberiku sepotong tangga berbahan kayu itu.

 

Festival Buku

“Kau ingin pergi ke festival bedah buku di pusat kota, ya?” Tanyaku.

“Eh, kau baca buku itu juga?” Harlan balik bertanya.

“Iya, aku baca. Kita bisa pergi bersama, ‘kan?”

Tak Harlan ketahui bahwa aku mencari tahu apa bacaan favoritnya. Kuanggap ini sebagai aksi cinta, tanggaku meninggi karenanya. Tujuanku menamatkan buku kesukaan Harlan adalah agar dapat memiliki topik obrolan dengannya.

Festival bedah buku berlangsung dengan khidmat. Aku dan Harlan asyik membicarakan buku itu. Di penghujung acara, Harlan mulai memelankan suaranya dan mengganti topik.

“Aku takut,” ujarnya.

“Takut kenapa?” Tanyaku.

“Aku dapat kabar bahwa nenekku jatuh sakit di negeri seberang.”

Mendengarnya, aku memberikan perhatian terbesarku pada Harlan.

“Keluargaku… Mereka saling menyalahkan satu sama lain,” lanjut Harlan dengan suara lirih.

Tak kupotong satu kalimat pun dari Harlan, aku membiarkannya bercerita sampai ia mengatakan, “Kau tahu, Fibi? Aku tak pernah membuka diri pada orang lain sebelumnya. Terima kasih sudah mendengarku.”

“Bukan kau yang seharusnya mengucapkan ucapan terima kasih, tapi aku yang berterimakasih padamu—terima kasih karena kau cukup percaya untuk mengungkapkan hal personal di depanku,” ucapku.

“Berhenti, Bi. Kau membuatku hampir menangis.”

“Kau tahu, pria boleh bercerita, ‘kan? Kau tak perlu termakan narasi media sosial.”

“Haha. Iya, Bi, iya.”

Aku menjadi pendengar bagi Harlan atas nama cinta, barangkali saja ia bisa merasakannya. Aku mencintai Harlan karena… Perlukah aku menyebutkan alasannya secara spesifik ketika cinta merupakan sesuatu yang abstrak?

 

Kesibukan Harlan

Seiring berjalannya waktu, kutemani Harlan yang sibuk mencari uang demi membiayai pengobatan neneknya. Meskipun waktu bersama kami terkikis karenanya, aku tetap setia menemaninya. Aku sudah tahu polanya. Saking sibuknya Harlan, kini ia mulai jarang bisa dihubungi. Rambutku yang semula pendek, kini memanjang. Menyimbolkan seberapa lama aku sabar menunggunya.

“Lan… Kau pernah janji, ‘kan, bahwa kau hendak menemuiku? Sudah berapa purnama kita tidak bertemu?” Aku menagih janji Harlan.

“Aku tidak bisa,” tegas Harlan.

“Lalu, untuk apa kau menjanjikan pertemuan itu?” Aku menaikkan suaraku.

“Nenek harus diobati dengan apa jika aku tidak bekerja?” Harlan lantas mematikan telepon. Ini pertama kalinya aku mendengar ia menangis.

Selama beberapa menit, aku mencari tahu bagaimana cara menenangkan Harlan.

“Lan... Aku minta maaf. Aku lupa keadaan terkinimu. Tak seharusnya aku tak memahami keadaanmu,” dengan suara yang lembut, aku mengirimi pesan suara pada Harlan.

“Tak apa-apa, Fibi. Kau ada benarnya juga. Bolehkah aku minta waktu sendiri?” Jawab Harlan.

“Silakan, ambil waktu selama yang kau butuhkan,” aku mempersilakannya, meskipun Herlan yang pergi sementara meninggalkan jejak rindu yang berat untuk kutanggung.

Satu purnama berlalu, aku merindukan Harlan lebih dari yang seharusnya. Namun, bukankah cinta itu kata kerja? Bukankah cinta itu melakukan segala aksi sebagai bukti bahwa rasa yang aku miliki itu nyata?

 

Bukankah Ini yang Harlan Mau?

Purnama demi purnama berlalu... Tenaga yang kupunya ‘tuk mencintai Harlan membuat tanggaku semakin tinggi, peluangku ‘tuk mendapatkan bulan itu semakin besar.

Aku menelusuri akun media sosial Harlan. Aku perhatikan semua unggahan yang ia bagikan ulang. Jatuh cinta, hidup bahagia bersama kekasih, dimengerti oleh pasangan, serta hal-hal yang serupa dengannya. Baiklah, bila itu yang ia mau, maka akan kuberikan padanya.

Setiap kali Harlan menumpah-ruahkan keluh kesahnya padaku, kutampung semua beban itu dalam wadah terbesarku. Sekalipun aku menemui Harlan di titik terendahnya, hal itu sama sekali tak mengurangi besarnya rasa cinta yang kutanam untuknya.

 

Tinggi Tangga yang Tak Terhingga

Sudah lewat empat purnama, aku dan Harlan kembali ke balkon kafetaria itu. Rambut Harlan masih belah tengah, kaos oblong putih masih dikenakannya. Sedang aku, rambutku kian memanjang sejak pertemuan itu.

“Ingatkah kau saat kubilang akan kuambil bulan itu untukmu?” Sembari mendongakkan kepala ke arah langit, kulemparkan pertanyaan itu pada Harlan.

“Apa yang kau maksud saat kau mempertanyakan itu?” Tanya Harlan.

“Itu artinya, aku rela memanjat tangga tertinggi ‘tuk mengambil bulan yang kau sukai, sebagai tanda bahwa... Aku mencintaimu.”

Harlan mengalihkan kepalanya dari arah langit, kemudian menatap bola mataku, “Fibi... Tanpa kau utarakan pun, aku bisa merasakan getaran cintamu. Namun sayangnya, aku tak mampu membalas perasaanmu. Cukup, ya? Sekiranya jangan berikan aku cinta lagi. Aku tak menginginkanmu, Bi.”

Mendengarnya, tetes air mata meluap dari kelopak mataku.

“Tak maukah kau membiarkanku mencintaimu, Harlan? Aku ada di sana saat kau tak punya siapa pun ‘tuk berbagi cerita, aku memberimu waktu sendiri, aku memperlakukanmu layaknya kekasihsesuai yang kau minta. Meskipun sepatumu sedang berdiri di titik kehidupan yang rendah, kau tetap layak mendapatkan itu semua,” aku berusaha meyakinkan Harlan.

“Bagaimana jika aku menjadi diriku versi terbaik, dan aku masih tak menginginkanmu?”

Deg. Mendengarnya, hatiku bak dihantam pukulan tinju.

“Kau tahu mengapa namaku Fibi? Nama itu diambil dari Phoebe, dewi bulan dalam mitologi Yunani. Dalam pelafalan bahasa Indonesia, Phoebe dibaca Fibi. Maka saat kubilang aku akan memberimu bulan, itu artinya aku akan memberimu diriku sendiri. Aku akan memberimu diriku seutuh-utuhnya. Telah kukokohkan tangga tertinggi itu, telah kukuatkan telapak kakiku, agar kubisa memanjat, dan mengambil bulan untukmu. Telah kulakukan semua hal yang kau mau, sebagai bukti bahwa cintaku adalah kata kerja. Jika kau bertanya-tanya akan bukti cintaku padamu, maka eksistensiku adalah bukti dari cinta itu sendiri.”

Komentar