Langsung ke konten utama

Analisis Teori Habitus dalam Novel Normal People Karya Sally Rooney Berdasarkan Filsafat Sosial Pierre Bourdieu

Teori Habitus dan Arena Pierre Bourdieu

Pierre Bourdieu lahir di Perancis pada tahun 1930. Latar belakangnya dari keluarga kelas menengah ke bawah, diikuti dengan keberhasilannya menembus lingkungan perguruan tinggi elit borjuis, menciptakan perubahan habitus dan arena yang mencolok. Transformasi sosial ini mempengaruhi karya-karyanya dan menjadikannya seorang sosiolog kultural, etnolog, antropolog, serta filsuf yang sangat diperhitungkan (Mustikasari, M., Arlin, A., & Kamaruddin, S. A., 2023: 10). Pierre Bourdieu (w. 2002) banyak mendiskusikan tentang kelas sosial dalam karya-karyanya. Kelas sosial adalah kategori analitik fundamental dalam sebagian besar penelitian Bourdieu, sedemikian rupa sehingga ia secara rutin dimasukkan dalam daftar ahli teori kelas kontemporer terkemuka (Weininger, E. B., 2002: 116).

Saya mendapatkan penjelasan mengenai kelas sosial Bourdieu dari Fahruddin Faiz, dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia berkata bahwa Bourdieu berkuliah di jurusan filsafat, berfokus pada filsafat sosial, dan kemudian menjadi filsuf postmodern. Bourdieu mengemukakan konsep praksis sosial. Praksis sosial merupakan hasil dialektika antara internalisasi eksterior dan eksternalisasi interior. Internalisasi eksterior adalah pengungkapan dari berbagai hal yang telah terinternalisasi dan menjadi bagian dari perilaku sosial, atau yang disebut juga habitus. Sedangkan eksternalisasi interior ialah internalisasi berbagai hal yang dialami dari luar diri perilaku sosial, atau yang disebut pula arena. Dialektika yang terjadi sangat ditentukan oleh kapital atau modal (MJS Channel, 2020).

Habitus, arena, dan kapital adalah tiga aspek sosial yang saling terkait. Selanjutnya, artikel ini akan lebih menyoroti teori habitus yang disampaikan oleh dosen Sosiologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dede Syarif. Ia menjelaskan bahwa habitus—sebagaimana yang ia kutip dari buku Teori Sosiologi (George Ritzer, 2012)—adalah suatu struktur mental yang melalui struktur tersebut, individu berurusan dengan dunia sosial. Habitus memiliki akar kata habit dalam bahasa Inggris yang berarti pembiasaan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa habitus terbentuk dari konteks historis serta lingkungan sosial yang kemudian diinternalisasi oleh individu dan menjadi bagian dalam konsepsi mentalnya ketika berinteraksi dengan dunia luar (Perspektif Sosiologi, 2021).

Habitus selalu dibentuk dalam momen praktik. Habitus dipengaruhi oleh individu saat menghadapi masalah dan menciptakan keputusan. Oleh karena itu, habitus terlibat dalam kehidupan sehari-hari (Munafi, L. O. A., 2024: 152). Sementara itu menurut Bourdieu, habitus terbentuk secara berbeda sesuai dengan posisi masing-masing individu dalam ruang sosial. Oleh karena itu, habitus bersifat empiris dan spesifik terhadap kelas (Weininger, E. B., 2002: 129).

Contoh habitus ialah individu yang terbiasa belajar di sekolah elit. Kalangan atas adalah lingkungan yang diinternalisasi dalam mentalnya dan terbentuk menjadi konsepsi dalam kepalanya. Ketika berinteraksi dengan dunia sosial, ia akan menggunakan konsepsi tersebut. Dengan cara itulah individu berinteraksi, menyelesaikan, menganalisis, dan mengelola kehidupan eksternal.

Selain habitus, ada pula yang disebut arena. Arena menurut Bourdieu merupakan ranah atau medan kekuatan. Dalam konteks ini, terdapat perjuangan (perebutan) atas modal (sumber daya) dan upaya untuk mengakses kekuasaan. Perebutan tersebut merupakan strategi untuk memperoleh posisi yang lebih baik dalam arena. Posisi individu dalam ranah sosial bergantung pada akumulasi dan jenis modal yang dimiliki (Munafi, L. O. A., 2024: 157). Agar berhasil di dalam arena, individu perlu memiliki habitus dan kapital yang tepat (Wattimena, R. A. A., 2012).

Pada dasarnya, arena merupakan lingkup eksternal dan tempat di mana individu bersosialisasi. Bagi pelajar, sekolah adalah arenanya. Sementara bagi politisi, pemilu adalah arenanya. Tak hanya terkenal akan teori habitus dan arena, Bourdieu juga mengemukakan teori kapital. Dalam artikel ini, teori kapital akan dibahas dalam poin ketiga.


Kelas Sosial dalam Novel Normal People Karya Sally Rooney

Normal People adalah novel fiksi romansa karya seorang penulis Irlandia, Sally Rooney. Novel yang diterbitkan oleh penerbit Faber & Faber pada tahun 2018 ini telah menerima pengakuan secara global. Ulasan The Guardian menyebut Normal People adalah kisah cinta yang elegan (Myerson, J., 2018). Sementara itu, New York Times melaporkan bahwa novel ini menduduki peringkat ketiga dalam daftar New York Times Best Seller pada April 2019 (Jordan, T., 2019). Dilansir dari The Irish Time, tercatat bahwa Normal People dianugerahi Costa Novel Award pada tahun 2018 (Falvey, D., 2019). Torehan sejarah ini menjadikan Rooney sebagai novelis termuda yang memenangi penghargaan tersebut. Atas popularitasnya itulah, novel ini diadaptasi menjadi serial Hulu berjudul sama pada tahun 2020.

Tak hanya perbincangan akan pengakuan secara global terhadap Normal People, novel ini juga ramai dibincangkan akan nihilnya penggunaan tanda kutip. Ciri khas penulisan Rooney adalah tidak menggunakan tanda kutip dalam kalimat percakapan. Dialog ditulis dan diikuti he/she says, ada pula dialog yang langsung ditulis tanpa he/she says. Penulisan seperti ini membingungkan sebagian pembacanya dalam membedakan dialog dan narasi. Namun, saya menginterpretasi nihilnya penggunaan tanda kutip sebagai penegasan akan tema miskomunikasi.

Novel ini sendiri berkisah tentang hubungan rahasia antara dua pelajar SMA, yaitu Connell Waldron dan Marianne Sheridan. Ibu Connell, Lorraine bekerja sebagai pembantu bagi keluarga Sheridan. Novel ini diawali dengan bab “January 2011”. Seperti yang tertera dalam bab ini, dikatakan bahwa, “People know that Marianne lives in the white mansion with the driveway and that Connell’s mother is a cleaner, but no one knows of the special relationship between these facts”. Normal People diawali dengan penceritaan latar belakang dua tokoh utamanya. Connell berasal dari kelas bawah, sedangkan Marianne berasal dari kelas atas.

Terdapat alasan dibalik perbedaan kelas sosial di antara Connell dan Marianne. Dalam sebuah wawancara, Rooney berkata, “I write a lot about social class. [...] The people that I write about tend to be kind of precariously situated in the economy and they’re usually college educated like I am, but that doesn’t necessarily mean that they are financially stable or secure. [...] When I came out of college, when I had enough of a developed brain to notice what I was seeing around me, those were the only tools and materials that I could draw to make sense of and to use in a book. So is to try and observe how class as a very social structure impacts personal and intimate lives like how do we carry material realities and economic realities into our interpersonal relationships.” (Louisiana Channel, 2019).

Rooney (lahir 1991) menulis cerita yang terasa dekat dan berkesinambungan dengan dirinya: generasi milenial, budaya Irlandia, bagaimana rasanya berkuliah di Trinity College Dublin, serta perbedaan kelas sosial yang mempengaruhi caranya melihat hubungan antarindividu. Lewat wawancara itu, ia berkata bahwa melalui novelnya, ia berupaya menganalisis diferensiasi kelas sosial yang berdampak pada dinamika hubungan karakter-karakternya.

Rooney menjadikan negara kelahirannya sebagai latar tempat novel Normal People. Karenanya, realitas kelas sosial di Irlandia menjadi topik yang penting untuk dibahas. Anehnya, kelas sosial adalah istilah yang tabu dan jarang digunakan di Irlandia. Orang-orang Irlandia tidak suka menyebut siapa yang punya lebih banyak uang dan siapa yang kekurangan uang (Fauzi, I., 2025).

Diferensiasi kelas sosial menciptakan stratifikasi sosial yang terbagi ke dalam tiga kelas, yakni kelas bawah, menengah, dan atas, seperti yang tercantum dalam bab “Six Weeks Later (April 2011)”. Dalam bab itu, Rooney menulis, “Instead everyone has to pretend not to notice that their social lives are arranged hierarchically, with certain people at the top, some jostling at mid-level, and others lower down”. Kutipan itu menunjukkan bagaimana kondisi sosial dalam novel Normal People tersusun secara hierarkis dan secara langsung mengungkap persoalan stratifikasi sosial yang tercermin dalam novel ini (Nasronuddin, M., 2025).

Stratifikasi sosial termasuk dalam bahasan sosiologi. Sosiologi memperlakukan individu sebagai produk dari kondisi objektif yang mirip, yakni kesamaan kelas sosial. Kelas sosial adalah eksistensi dari pengkondisian yang identik dan serupa (Bourdieu, P., 1990).  Kondisi sosial dalam karya sastra dapat dijadikan objek kajian dalam sosiologi sastra. Sosiologi sastra berhubungan dengan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok bahasannya dan memperlihatkan keprihatinan penulis terhadap status sosial (Nasronuddin, M., 2025). Dalam artikel ini, karya sastra yang menjadi objek kajian adalah Normal People. Novel ini dapat dilihat dari keprihatinan Rooney terhadap perbedaan status sosial yang mempengaruhi dinamika hubungan antarkarakter. Secara sosiologis, kajian sastra dapat dianalisis menggunakan perspektif Bourdieu.

 

Analisis Novel Normal People Menurut Pierre Bourdieu

Semasa bersekolah di SMA bagi kaum menengah ke bawah, Marianne tidak berteman. Di Trinity College Dublin, keadaan sosial berubah baginya. Dalam bab “Three Months Later (November 2011)”, Marianne bercakap-cakap dengan Connell, “I have some girlfriends I could introduce you to. Oh yeah? Yeah, I have those now, she says”. Munculnya relasi pertemanan di hidup Marianne dapat dijelaskan lewat teori kapital.

Kapital merupakan modal yang esensial untuk membuka akses terhadap berbagai kesempatan dalam kehidupan individu. Kapital terbagi menjadi beberapa jenis, seperti modal intelektual, modal ekonomi, dan modal budaya. Penting dicatat, perolehan kapital ini sangat dipengaruhi oleh kesesuaian habitus yang dimiliki individu dengan tuntutan ruang sosial (Wattimena, R. A. A., 2012). Dalam hal ini, Marianne memiliki ketiganya. Ia punya privilese mulai dari kapital intelektual (menjadi individu yang terdidik), kapital ekonomi (kecukupan finansial), hingga kapital budaya (berasal dari habitus keluarga kelas atas). Kelengkapan kapital inilah yang membuatnya mampu bertarung di arena Trinity College.

Salah satu paragraf dalam dua bab sebelumnya, yakni bab “Two Days Later (April 2011)” juga dapat dianalisis menggunakan teori kapital. Dalam paragraf itu, diceritakan bahwa, “His aunts and uncles are all very impressed with his decision to put Trinity as his first choice, which embarrasses him. [...] Lorraine says she doesn’t want him having to work too much through college, she wants him to focus on his degree. That makes him feel bad, because it's not like English is a real degree you can get a job out of, it’s just a joke, and then he thinks he probably should have applied for Law after all.”

Dalam paragraf itu, disebut bahwa Connell—yang berasal dari habitus kelas bawah—tak percaya diri berkuliah di Trinity College. Dalam konteks sosial, Trinity College adalah arena bagi kaum kelas atas. Agar dapat beradaptasi di sana, Connell harus memiliki kapital yang cukup. Selain kapital intelektual dan ekonomi, ada pula yang sebut sebagai kapital cinta, yaitu kapital yang dapat dipahami sebagai suatu bentuk modal yang beroperasi dalam arena-arena hubungan intim (Atkinson, W., 2025: 645). Dalam hal ini, kapital ekonomi tetaplah menjadi kapital yang paling mempengaruhi Connell. Connell memang memiliki kapital intelektual yaitu modal pendidikan, ia juga punya kapital cinta karena menaruh rasa pada Marianne, namun ia tetap merasa rendah diri karena tidak memiliki modal uang. Sekalipun kuliahnya didukung oleh keluarganya, habitus kelas bawah masih membelenggu isi pikiran Connell.

Hal itu dikarenakan arena memberi pengakuan, penghargaan, nilai, dan harga diri di mata orang lain (Atkinson, W., 2025: 648). Dalam hal ini, Connell putus asa karena ia yang merupakan kelas bawah tidak mendapat validasi dari arena elit Trinity College. Connell yang terkurung dengan habitusnya, bahkan sampai merendahkan jurusan kuliahnya sendiri. Connell merasa kuliah bahasa Inggris tidak akan menghasilkan pundi-pundi uang. Sekilas ia bertanya, apakah sebaiknya kuliah hukum saja? Pertanyaan itu tidak hadir begitu saja, namun muncul karena Connell ingin kepastian karir agar punya kapital ekonomi yang cukup, sehingga ia mampu bertarung di arena kelas atas.

Ketidakmampuan Connell dalam bertarung di arena kelas atas diperlihatkan lewat bab “Three Months Later (February 2012)” yang berbunyi, “Marianne lives alone in a one-bedroom apartment. [...] He complains to her, seemingly without reservation, about how hard it is to make friends in Trinity. [...] That’s why it’s easy for you, by the way, he said. Because you’re from a rich family, that’s why people like you”. Bab itu tidak hanya menceritakan Marianne yang secara mandiri mampu menyewa flat (sebutan apartemen di Irlandia), namun juga mempertegas habitusnya sebagai individu dari kelas atas. Connell berkomentar bahwa Marianne dapat bersosialiasi dengan mudah di Trinity College karena ia berasal dari keluarga kaya.

Salah satu bagian dalam bab “Six Weeks Later (September 2012)” menjadi adegan yang paling disoroti oleh banyak pembaca Normal People, yakni adegan yang menunjukkan miskomunikasi di antara Connell dan Marianne. Dikisahkan bahwa, “He said: [...] It looks like I won't be able to pay rent up here this summer. [...] I'm going to have to move out of Niall's place. [...] Oh, she said. You'll be going home, then. [...] It was too late to say he wanted to stay with her. [...] I don't know, he said. I guess you'll want to see other people, then, will you? [...] Marianne said: Sure. [...] Marianne had just wanted to see someone else all along, he thought. She was probably glad he'd had to leave Dublin because he was broke. She wanted a boyfriend whose family could take her on skiing holidays.”

Dalam adegan ini, Connell menginformasikan bahwa ia tak sanggup membayar sewa flat. Ia ingin menetap di flat Marianne, namun sungkan untuk mengakuinya. Respons Marianne yang tak sesuai dengan keinginan Connell membuatnya mengira Marianne ingin mengencani kekasih baru dengan kelas sosialnya yang sama dengannya. Connell berprasangka, Marianne yang berasal dari habitus kelas atas akan bertarung di arena kelas atas pula.

Adegan ini dilanjut berselang empat bulan kemudian. Dalam bab “Four Months Later (January 2013)”, Connell berucap, “You know, I didn't really know what was going on with us last summer, he says. Like, when I had to move home and that. I kind of thought maybe you would let me stay here or something. [...] You told me you wanted us to see other people, she says. I had no idea you wanted to stay here. I thought you were breaking up with me. [...] You didn't say anything about wanting to stay here, she adds. You would have been welcome, obviously. You always were”. Percakapan ini semakin mempertegas bahwa buruknya komunikasi di antara Connell dan Marianne dipengaruhi oleh perbedaan habitus yang ada. Habitus kelas bawah adalah nilai sosial yang dihayati oleh Connell dan mempengaruhi caranya dalam memahami Marianne, individu yang berasal dari habitus yang kontras dengannya.

Dalam bab “Six Months Later (July 2013)”, diceritakan bahwa Connell yang meraih beasiswa membuatnya tak perlu risau lagi akan biaya sewa flat. Tak hanya Connell, Marianne turut meraih beasiswa. Dalam percakapannya dengan Connell, Marianne berkata, “But you deserve it more. He looked up at her. [...] You mean in terms of the financial stuff? he said. Oh, she replied. Well, I meant that you're a better student. [...] Though in terms of financial circumstances too, obviously, she said. I mean, it's kind of ridiculous they don't means-test these things.”

Marianne hendak memuji kepintaran Connell, namun habitus kelas bawah yang terinternalisasi dalam kepala Connell membuatnya mengaitkan pujian Marianne sebagai penegasan akan diferensiasi kelas sosial. Setelahnya, Connell merespons perkataan Marianne dengan kalimat, “I guess we're from very different backgrounds, class-wise. [...] You don't consider me your working-class friend?”

Frustasinya akan menjadi individu dari habitus kelas bawah yang bertarung di arena kelas atas membuat Connell pergi ke jasa psikolog gratis. Dalam sesi konsultasinya di bab “Three Months Later (March 2014)”, ia menyebut, “The people here are a lot worse than the people I knew in school. I mean everyone here just goes around comparing how much money their parents make.”

Sang penulis mengkonfirmasi teralienasinya Connell dengan lingkungan di Trinity College lewat sebuah wawancara (Louisiana Channel, 2019). Rooney berkata, “There’s a scene in the second novel [Normal People] where Connell—one of the protagonists—goes to a literary reading and he feels incredibly alienated from what he sees.”

Hal ini dapat terjadi karena individu dengan habitus kelas bawah condong merasa rendah diri. Bukan karena kurangnya kemampuan, namun karena merasa teralienasi dari dunia luar. Sama halnya seperti Connell yang merasa teralienasi dari elitnya lingkungan di Trinity College. Connell pun mulai membandingkan kelompok di kuliah dengan kelompok di sekolahnya. Sekolah Connell adalah tempat di mana individu-individu dari kelas menengah ke bawah belajar. Individu cenderung berinteraksi bersama individu-individu dengan habitus yang sama, yaitu individu-individu yang familiar dengannya dan paham aturan tidak tertulis. Itulah mengapa Connell merasa lebih nyaman bersosialisasi di sekolahnya.

Namun, apakah hubungan Connell dan Marianne akan baik-baik saja andai tidak ada perbedaan habitus di antara mereka? Jawabannya adalah ya. Dalam bab “Four Months Later (July 2014)”, Connell berkata pada Marianne, “I just feel like things would be less confusing if there wasn’t this other element to the relationship”. Dapat diinterpretasi bahwa yang Connell maksud dengan this other element adalah perbedaan habitus yang tak kuasa ia hindari.

Connell dan Marianne menjalin hubungan romantis namun terhalang oleh perbedaan kelas, hal itu menyebabkan hubungan mereka tidak berjalan baik sedari awal. Dalam Normal People, kelas sosial memainkan peran besar bagi hubungan Connell dan Marianne. Novel ini menunjukkan bagaimana kelas sosial menambah kompleksitas pada hubungan mereka, serta menciptakan perjuangan kelas, kesalahpahaman, dan rasa rendah diri yang menghalangi mereka untuk terkoneksi sepenuhnya pada satu sama lain. Hal itu menciptakan hambatan bagi mereka untuk memiliki hubungan yang sehat (Fauzi, I., 2025).

Connell dan Marianne berulang kali diperkenalkan sebagai pasangan dari kelas sosial yang berbeda. Perbedaan latar belakang ini menciptakan berbagai konflik yang pada akhirnya membentuk cara mereka melihat diri sendiri dan hubungan mereka. Rooney mengeksplorasi bagaimana perbedaan kelas sosial dalam suatu hubungan dapat memunculkan dampak. Connell yang berasal dari kelas pekerja sering merasa rendah diri di hadapan teman-teman Marianne yang kaya. Meskipun Connell pintar, hal itu lantas tidak membuatnya lebih baik. Kepintaran itu hanyalah membuat Connell semakin menyadari kesenjangan kelas yang ada. Connell yang kesulitan secara finansial membuatnya merasa rendah diri dan kesusahan mengekspresikan dirinya dalam hubungan romantis yang ia jalani. Adapun Marianne, ia peduli dengan Connell, namun privilesenya sebagai individu dari kelas atas menjadi alasan mengapa ia tidak mengerti tekanan yang Connell hadapi. Hambatan itulah yang membawa mereka pada kesalahpahaman (Fauzi, I., 2025).

 

Daftar Pustaka

Adlibris. Sally Rooney – irlantilainen kirjailija. [Foto]. https://www.adlibris.com/fi/kirjailija/sally-rooney

Atkinson, Will. (2025). Bourdieu on love: A latent capital, a primary field and a new research agenda. Jurnal Sociological Review, 73(3), 645—660. https://research-information.bris.ac.uk/en/publications/bourdieu-on-love-a-latent-capital-a-primary-field-and-a-new-resea/

Bourdieu, Pierre. (1990). The Logic of Practice. (R. Nice, Trans.). Standford University Press.

Collège de France. Tribute to Pierre Bourdieu. [Foto]. https://www.college-de-france.fr/en/news/tribute-to-pierre-bourdieu

Falvey, Deirdre. (2019, Januari 7). Sally Rooney wins Costa Novel Award for ‘Normal People’. The Irish Times. https://www.irishtimes.com/culture/books/sally-rooney-wins-costa-novel-award-for-normal-people-1.3750285

Fauzi, Inggrid. (2025). Exploring Social Classes Impacts to Romantic Relationship in Normal People by Sally Rooney: A Marxist Analysis. (Skripsi, Sastra Inggris, Universitas Andalas Padang). http://scholar.unand.ac.id/490691/

Jordan, Tina. (2019, April 26). Sally Rooney’s ‘Normal People’ Debuts on the List at No. 3. The New York Times. https://www.nytimes.com/2019/04/26/books/review/sally-rooney-normal-people-best-seller.html

Louisiana Channel. (2019, Februari 26). Sally Rooney on Writing with Marxism. [Video]. https://youtu.be/Z1S5bOdJq3U?si=SJ9IWJDWfoNnDjZH

MJS Channel. (2020, April 19). Ngaji Filsafat 63: Pierre Bourdieu. [Video]. https://youtu.be/hz1WOkzV-Ws?si=-7M4T_B6Xy33OTKO

Munafi, L. O. A. (2024). Teori Habitus dan Ranah Pierre Bourdieu. Rasulu, H. & Munaeni W. (Eds.), Teori Sosiologi (hlm. 152 & 157). Jawa Tengah: Eureka Media Aksara.

Mustikasari, M., Arlin, A., & Kamaruddin, S. A.  (2023). Pemikiran Pierre Bourdieu dalam Memahami Realitas Sosial. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora (KAGANGA), 6(1), 9—14. https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/KAGANGA/article/view/5089

Myerson, Julie. (2018, Agustus 26). Normal People by Sally Rooney review – an elegant love story for a cynical age. The Guardian. https://www.theguardian.com/books/2018/aug/26/sally-rooney-normal-people-review-elegant-intelligent-tender

Nasronuddin, Muhammad. (2025). Social Stratification Depicted in Sally Rooney’s Normal People. (Skripsi, Sastra Inggris, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang). http://etheses.uin-malang.ac.id/51605/1/17320017.pdf

Perspektif Sosiologi. (2021, Januari 3). Pierre Bourdieu: Habitus dan Arena. [Video]. https://youtu.be/Ci4susJ-QoU?si=tbKPvvFPIkJu3xZp

Thalia. “Normal People” als Hörbuch kaufen. [Foto]. https://www.thalia.de/shop/home/artikeldetails/A1068966960

Wattimena, Reza A. A. (2012, April 14). Berpikir Kritis bersama Pierre Bourdieu. Rumah Filsafat. https://rumahfilsafat.com/2012/04/14/sosiologi-kritis-dan-sosiologi-reflektif-pemikiran-pierre-bourdieu/#_ftn1

Weininger, E. B. (2002). Pierre Bourdieu on Social Class and Symbolic Violence. Wright, E. O. (Ed.), Alternative Foundations of Class Analysis (hlm. 116 & 129). University of Wisconsin-Madison USA. https://pages.nyu.edu/jackson/class.analysis/readings/Wright--AltFoundationsClassAnalysis.pdf#page=118

Komentar