Analisis Teori Habitus dalam Novel Normal People Karya Sally Rooney Berdasarkan Filsafat Sosial Pierre Bourdieu
Teori Habitus dan Arena Pierre Bourdieu
Pierre
Bourdieu lahir di Perancis pada tahun 1930. Latar belakangnya dari keluarga
kelas menengah ke bawah, diikuti dengan keberhasilannya menembus lingkungan
perguruan tinggi elit borjuis, menciptakan perubahan habitus dan arena yang
mencolok. Transformasi sosial ini mempengaruhi karya-karyanya dan menjadikannya
seorang sosiolog kultural, etnolog, antropolog, serta filsuf yang sangat
diperhitungkan (Mustikasari, M., Arlin, A., & Kamaruddin, S. A., 2023: 10). Pierre Bourdieu
(w. 2002) banyak mendiskusikan tentang kelas sosial dalam karya-karyanya. Kelas
sosial adalah kategori analitik fundamental dalam sebagian besar penelitian
Bourdieu, sedemikian rupa sehingga ia secara rutin dimasukkan dalam daftar ahli
teori kelas kontemporer terkemuka (Weininger, E. B., 2002: 116).
Saya mendapatkan penjelasan mengenai
kelas sosial Bourdieu dari Fahruddin Faiz, dosen Aqidah dan Filsafat Islam UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia berkata bahwa Bourdieu berkuliah di jurusan
filsafat, berfokus pada filsafat sosial, dan kemudian menjadi filsuf
postmodern. Bourdieu mengemukakan konsep praksis sosial. Praksis sosial
merupakan hasil dialektika antara internalisasi eksterior dan eksternalisasi
interior. Internalisasi eksterior adalah pengungkapan dari berbagai hal yang
telah terinternalisasi dan menjadi bagian dari perilaku sosial, atau yang
disebut juga habitus. Sedangkan eksternalisasi interior ialah internalisasi
berbagai hal yang dialami dari luar diri perilaku sosial, atau yang disebut
pula arena. Dialektika yang terjadi sangat ditentukan oleh kapital atau modal (MJS
Channel, 2020).
Habitus, arena, dan kapital adalah tiga
aspek sosial yang saling terkait. Selanjutnya, artikel ini akan lebih
menyoroti teori habitus yang disampaikan oleh dosen Sosiologi UIN Sunan Gunung
Djati Bandung, Dede Syarif. Ia menjelaskan bahwa habitus—sebagaimana yang ia
kutip dari buku Teori Sosiologi (George
Ritzer, 2012)—adalah suatu struktur mental yang melalui struktur tersebut,
individu berurusan dengan dunia sosial. Habitus memiliki akar kata habit dalam
bahasa Inggris yang berarti pembiasaan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa
habitus terbentuk dari konteks historis serta lingkungan sosial yang kemudian
diinternalisasi oleh individu dan menjadi bagian dalam konsepsi mentalnya
ketika berinteraksi dengan dunia luar (Perspektif Sosiologi, 2021).
Habitus selalu dibentuk dalam momen
praktik. Habitus dipengaruhi oleh individu saat menghadapi masalah dan
menciptakan keputusan. Oleh karena itu, habitus terlibat dalam kehidupan
sehari-hari (Munafi, L. O. A., 2024: 152). Sementara itu menurut Bourdieu,
habitus terbentuk secara berbeda sesuai dengan posisi masing-masing individu
dalam ruang sosial. Oleh karena itu, habitus bersifat empiris dan spesifik
terhadap kelas (Weininger, E. B., 2002: 129).
Contoh habitus ialah individu yang terbiasa
belajar di sekolah elit. Kalangan atas adalah lingkungan yang diinternalisasi
dalam mentalnya dan terbentuk menjadi konsepsi dalam kepalanya. Ketika
berinteraksi dengan dunia sosial, ia akan menggunakan konsepsi tersebut. Dengan
cara itulah individu berinteraksi, menyelesaikan, menganalisis, dan mengelola
kehidupan eksternal.
Selain habitus, ada pula yang disebut
arena. Arena menurut Bourdieu merupakan ranah atau medan kekuatan. Dalam konteks ini, terdapat perjuangan (perebutan) atas
modal (sumber daya) dan upaya untuk mengakses kekuasaan. Perebutan tersebut
merupakan strategi untuk memperoleh posisi yang lebih baik dalam arena. Posisi
individu dalam ranah sosial bergantung pada akumulasi dan jenis modal yang
dimiliki (Munafi, L. O. A., 2024: 157). Agar berhasil di dalam
arena, individu perlu memiliki habitus dan kapital yang tepat (Wattimena, R. A. A., 2012).
Pada dasarnya, arena merupakan lingkup
eksternal dan tempat di mana individu bersosialisasi. Bagi pelajar, sekolah
adalah arenanya. Sementara bagi politisi, pemilu adalah arenanya. Tak hanya
terkenal akan teori habitus dan arena, Bourdieu juga mengemukakan teori
kapital. Dalam artikel ini, teori kapital akan dibahas dalam poin ketiga.
Kelas Sosial dalam Novel Normal People Karya Sally Rooney
Normal People adalah novel fiksi
romansa karya seorang penulis Irlandia, Sally Rooney. Novel yang diterbitkan
oleh penerbit Faber & Faber pada tahun 2018 ini telah menerima pengakuan
secara global. Ulasan The Guardian menyebut Normal People adalah
kisah cinta yang elegan (Myerson, J., 2018). Sementara itu, New York Times melaporkan bahwa novel
ini menduduki peringkat ketiga dalam daftar New York Times Best Seller
pada April 2019 (Jordan, T., 2019). Dilansir dari The Irish Time,
tercatat bahwa Normal People dianugerahi Costa Novel Award pada tahun
2018 (Falvey, D., 2019). Torehan sejarah ini menjadikan Rooney sebagai novelis
termuda yang memenangi penghargaan tersebut. Atas popularitasnya itulah, novel
ini diadaptasi menjadi serial Hulu berjudul sama pada tahun 2020.
Tak hanya perbincangan akan pengakuan
secara global terhadap Normal People, novel ini juga ramai dibincangkan
akan nihilnya penggunaan tanda kutip. Ciri khas penulisan Rooney adalah tidak
menggunakan tanda kutip dalam kalimat percakapan. Dialog ditulis dan diikuti he/she
says, ada pula dialog yang langsung ditulis tanpa he/she says. Penulisan
seperti ini membingungkan sebagian pembacanya dalam membedakan dialog dan
narasi. Namun, saya menginterpretasi nihilnya penggunaan tanda kutip
sebagai penegasan akan tema miskomunikasi.
Novel ini sendiri berkisah tentang
hubungan rahasia antara dua pelajar SMA, yaitu Connell Waldron dan Marianne
Sheridan. Ibu Connell, Lorraine bekerja sebagai pembantu bagi keluarga
Sheridan. Novel ini diawali dengan bab “January 2011”. Seperti yang tertera
dalam bab ini, dikatakan bahwa, “People know that Marianne lives in the
white mansion with the driveway and that Connell’s mother is a cleaner, but no
one knows of the special relationship between these facts”. Normal
People diawali dengan penceritaan latar belakang dua tokoh utamanya.
Connell berasal dari kelas bawah, sedangkan Marianne berasal dari kelas atas.
Terdapat alasan dibalik perbedaan kelas
sosial di antara Connell dan Marianne. Dalam sebuah wawancara, Rooney berkata, “I
write a lot about social class. [...] The people that I write about tend to be
kind of precariously situated in the economy and they’re usually college
educated like I am, but that doesn’t necessarily mean that they are financially
stable or secure. [...] When I came out of college, when I had enough of a
developed brain to notice what I was seeing around me, those were the only
tools and materials that I could draw to make sense of and to use in a book. So
is to try and observe how class as a very social structure impacts personal and
intimate lives like how do we carry material realities and economic realities
into our interpersonal relationships.” (Louisiana Channel, 2019).
Rooney (lahir 1991) menulis cerita yang
terasa dekat dan berkesinambungan dengan dirinya: generasi milenial, budaya
Irlandia, bagaimana rasanya berkuliah di Trinity College Dublin, serta
perbedaan kelas sosial yang mempengaruhi caranya melihat hubungan
antarindividu. Lewat wawancara itu, ia berkata bahwa melalui novelnya, ia
berupaya menganalisis diferensiasi kelas sosial yang berdampak pada dinamika
hubungan karakter-karakternya.
Rooney menjadikan negara kelahirannya
sebagai latar tempat novel Normal People. Karenanya, realitas kelas
sosial di Irlandia menjadi topik yang penting untuk dibahas. Anehnya, kelas
sosial adalah istilah yang tabu dan jarang digunakan di Irlandia. Orang-orang
Irlandia tidak suka menyebut siapa yang punya lebih banyak uang dan siapa yang
kekurangan uang (Fauzi, I., 2025).
Diferensiasi kelas sosial menciptakan
stratifikasi sosial yang terbagi ke dalam tiga kelas, yakni kelas bawah,
menengah, dan atas, seperti yang tercantum dalam bab “Six Weeks Later (April
2011)”. Dalam bab itu, Rooney menulis, “Instead everyone has to pretend not
to notice that their social lives are arranged hierarchically, with certain
people at the top, some jostling at mid-level, and others lower down”.
Kutipan itu menunjukkan bagaimana kondisi sosial dalam novel Normal People
tersusun secara hierarkis dan secara langsung mengungkap persoalan stratifikasi
sosial yang tercermin dalam novel ini (Nasronuddin,
M., 2025).
Stratifikasi sosial termasuk dalam bahasan sosiologi. Sosiologi memperlakukan individu sebagai produk dari kondisi objektif yang mirip, yakni kesamaan kelas sosial. Kelas sosial adalah eksistensi dari pengkondisian yang identik dan serupa (Bourdieu, P., 1990). Kondisi sosial dalam karya sastra dapat dijadikan objek kajian dalam sosiologi sastra. Sosiologi sastra berhubungan dengan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok bahasannya dan memperlihatkan keprihatinan penulis terhadap status sosial (Nasronuddin, M., 2025). Dalam artikel ini, karya sastra yang menjadi objek kajian adalah Normal People. Novel ini dapat dilihat dari keprihatinan Rooney terhadap perbedaan status sosial yang mempengaruhi dinamika hubungan antarkarakter. Secara sosiologis, kajian sastra dapat dianalisis menggunakan perspektif Bourdieu.
Analisis Novel Normal
People Menurut Pierre Bourdieu
Semasa bersekolah di SMA bagi kaum
menengah ke bawah, Marianne tidak berteman. Di Trinity College Dublin, keadaan
sosial berubah baginya. Dalam bab “Three Months Later (November 2011)”,
Marianne bercakap-cakap dengan Connell, “I have some girlfriends I could
introduce you to. Oh yeah? Yeah, I have those now, she says”. Munculnya relasi
pertemanan di hidup Marianne dapat dijelaskan lewat teori kapital.
Kapital
merupakan modal yang esensial untuk membuka akses terhadap berbagai kesempatan
dalam kehidupan individu. Kapital terbagi menjadi beberapa jenis, seperti modal
intelektual, modal ekonomi, dan modal budaya. Penting dicatat, perolehan
kapital ini sangat dipengaruhi oleh kesesuaian habitus yang dimiliki individu
dengan tuntutan ruang sosial (Wattimena, R. A. A., 2012). Dalam hal ini, Marianne
memiliki ketiganya. Ia punya privilese mulai dari kapital intelektual (menjadi
individu yang terdidik), kapital ekonomi (kecukupan finansial), hingga kapital
budaya (berasal dari habitus keluarga kelas atas). Kelengkapan kapital inilah
yang membuatnya mampu bertarung di arena Trinity College.
Salah satu paragraf dalam dua bab
sebelumnya, yakni bab “Two Days Later (April 2011)” juga dapat dianalisis
menggunakan teori kapital. Dalam paragraf itu, diceritakan bahwa, “His aunts
and uncles are all very impressed with his decision to put Trinity as his first
choice, which embarrasses him. [...] Lorraine says she doesn’t want him having
to work too much through college, she wants him to focus on his degree. That
makes him feel bad, because it's not like English is a real degree you can get
a job out of, it’s just a joke, and then he thinks he probably should have
applied for Law after all.”
Dalam paragraf itu, disebut bahwa
Connell—yang berasal dari habitus kelas bawah—tak percaya diri berkuliah di
Trinity College. Dalam konteks sosial, Trinity College adalah arena bagi kaum
kelas atas. Agar dapat beradaptasi di sana, Connell harus memiliki kapital yang
cukup. Selain kapital intelektual dan ekonomi, ada pula yang sebut sebagai
kapital cinta, yaitu kapital yang dapat dipahami sebagai suatu bentuk modal
yang beroperasi dalam arena-arena hubungan intim (Atkinson, W., 2025: 645). Dalam hal ini, kapital ekonomi tetaplah
menjadi kapital yang paling mempengaruhi Connell. Connell memang memiliki
kapital intelektual yaitu modal pendidikan, ia juga punya kapital cinta karena
menaruh rasa pada Marianne, namun ia tetap merasa rendah diri karena tidak
memiliki modal uang. Sekalipun kuliahnya didukung oleh keluarganya, habitus
kelas bawah masih membelenggu isi pikiran Connell.
Hal itu dikarenakan arena memberi pengakuan,
penghargaan, nilai, dan harga diri di mata orang lain (Atkinson, W., 2025: 648).
Dalam hal ini, Connell putus asa karena ia yang merupakan kelas bawah tidak
mendapat validasi dari arena elit Trinity College. Connell yang terkurung
dengan habitusnya, bahkan sampai merendahkan jurusan kuliahnya sendiri. Connell
merasa kuliah bahasa Inggris tidak akan menghasilkan pundi-pundi uang. Sekilas
ia bertanya, apakah sebaiknya kuliah hukum saja? Pertanyaan itu tidak hadir
begitu saja, namun muncul karena Connell ingin kepastian karir agar punya
kapital ekonomi yang cukup, sehingga ia mampu bertarung di arena kelas atas.
Ketidakmampuan Connell dalam bertarung di
arena kelas atas diperlihatkan lewat bab “Three Months Later (February 2012)”
yang berbunyi, “Marianne lives alone in a one-bedroom apartment. [...] He
complains to her, seemingly without reservation, about how hard it is to make
friends in Trinity. [...] That’s why it’s easy for you, by the way, he said.
Because you’re from a rich family, that’s why people like you”. Bab itu tidak
hanya menceritakan Marianne yang secara mandiri mampu menyewa flat (sebutan
apartemen di Irlandia), namun juga mempertegas habitusnya sebagai individu dari
kelas atas. Connell berkomentar bahwa Marianne dapat bersosialiasi dengan mudah
di Trinity College karena ia berasal dari keluarga kaya.
Salah satu bagian dalam bab “Six Weeks
Later (September 2012)” menjadi adegan yang paling disoroti oleh banyak pembaca
Normal People, yakni adegan yang menunjukkan miskomunikasi di antara
Connell dan Marianne. Dikisahkan bahwa, “He said: [...] It looks like I
won't be able to pay rent up here this summer. [...] I'm going to have to move
out of Niall's place. [...] Oh, she said. You'll be going home, then. [...] It
was too late to say he wanted to stay with her. [...] I don't know, he said. I
guess you'll want to see other people, then, will you? [...] Marianne said:
Sure. [...] Marianne had just wanted to see someone else all along, he thought.
She was probably glad he'd had to leave Dublin because he was broke. She wanted
a boyfriend whose family could take her on skiing holidays.”
Dalam adegan ini, Connell menginformasikan
bahwa ia tak sanggup membayar sewa flat. Ia ingin menetap di flat
Marianne, namun sungkan untuk mengakuinya. Respons Marianne yang tak sesuai dengan
keinginan Connell membuatnya mengira Marianne ingin mengencani kekasih baru
dengan kelas sosialnya yang sama dengannya. Connell berprasangka, Marianne yang
berasal dari habitus kelas atas akan bertarung di arena kelas atas pula.
Adegan ini dilanjut berselang empat bulan
kemudian. Dalam bab “Four Months Later (January 2013)”, Connell berucap, “You
know, I didn't really know what was going on with us last summer, he says.
Like, when I had to move home and that. I kind of thought maybe you would let
me stay here or something. [...] You told me you wanted us to see other people,
she says. I had no idea you wanted to stay here. I thought you were breaking up
with me. [...] You didn't say anything about wanting to stay here, she adds.
You would have been welcome, obviously. You always were”. Percakapan ini
semakin mempertegas bahwa buruknya komunikasi di antara Connell dan Marianne
dipengaruhi oleh perbedaan habitus yang ada. Habitus kelas bawah adalah nilai
sosial yang dihayati oleh Connell dan mempengaruhi caranya dalam memahami
Marianne, individu yang berasal dari habitus yang kontras dengannya.
Dalam bab “Six Months Later (July 2013)”,
diceritakan bahwa Connell yang meraih beasiswa membuatnya tak perlu risau lagi
akan biaya sewa flat. Tak hanya Connell, Marianne turut meraih beasiswa.
Dalam percakapannya dengan Connell, Marianne berkata, “But you deserve it
more. He looked up at her. [...] You mean in terms of the financial stuff? he
said. Oh, she replied. Well, I meant that you're a better student. [...] Though
in terms of financial circumstances too, obviously, she said. I mean, it's kind
of ridiculous they don't means-test these things.”
Marianne hendak memuji kepintaran Connell,
namun habitus kelas bawah yang terinternalisasi dalam kepala Connell membuatnya
mengaitkan pujian Marianne sebagai penegasan akan diferensiasi kelas sosial.
Setelahnya, Connell merespons perkataan Marianne dengan kalimat, “I guess
we're from very different backgrounds, class-wise. [...] You don't consider me
your working-class friend?”
Frustasinya akan menjadi individu dari
habitus kelas bawah yang bertarung di arena kelas atas membuat Connell pergi ke
jasa psikolog gratis. Dalam sesi konsultasinya di bab “Three Months Later
(March 2014)”, ia menyebut, “The people here are a lot worse than the people
I knew in school. I mean everyone here just goes around comparing how much
money their parents make.”
Sang penulis mengkonfirmasi teralienasinya
Connell dengan lingkungan di Trinity College lewat sebuah wawancara (Louisiana
Channel, 2019). Rooney berkata, “There’s
a scene in the second novel [Normal People] where Connell—one of the
protagonists—goes to a literary reading and he feels incredibly alienated from
what he sees.”
Hal ini dapat terjadi karena individu
dengan habitus kelas bawah condong merasa rendah diri. Bukan karena kurangnya
kemampuan, namun karena merasa teralienasi dari dunia luar. Sama halnya seperti
Connell yang merasa teralienasi dari elitnya lingkungan di Trinity College.
Connell pun mulai membandingkan kelompok di kuliah dengan kelompok di sekolahnya.
Sekolah Connell adalah tempat di mana individu-individu dari kelas menengah ke
bawah belajar. Individu cenderung berinteraksi bersama individu-individu dengan
habitus yang sama, yaitu individu-individu yang familiar dengannya dan paham
aturan tidak tertulis. Itulah mengapa Connell merasa lebih nyaman
bersosialisasi di sekolahnya.
Namun, apakah hubungan Connell dan
Marianne akan baik-baik saja andai tidak ada perbedaan habitus di antara
mereka? Jawabannya adalah ya. Dalam bab “Four Months Later (July 2014)”,
Connell berkata pada Marianne, “I just feel like things would be less
confusing if there wasn’t this other element to the relationship”. Dapat
diinterpretasi bahwa yang Connell maksud dengan this other element
adalah perbedaan habitus yang tak kuasa ia hindari.
Connell dan Marianne menjalin hubungan
romantis namun terhalang oleh perbedaan kelas, hal itu menyebabkan hubungan
mereka tidak berjalan baik sedari awal. Dalam Normal People, kelas
sosial memainkan peran besar bagi hubungan Connell dan Marianne. Novel ini
menunjukkan bagaimana kelas sosial menambah kompleksitas pada hubungan mereka,
serta menciptakan perjuangan kelas, kesalahpahaman, dan rasa rendah diri yang
menghalangi mereka untuk terkoneksi sepenuhnya pada satu sama lain. Hal itu
menciptakan hambatan bagi mereka untuk memiliki hubungan yang sehat (Fauzi, I.,
2025).
Connell dan Marianne berulang kali
diperkenalkan sebagai pasangan dari kelas sosial yang berbeda. Perbedaan latar
belakang ini menciptakan berbagai konflik yang pada akhirnya membentuk cara mereka
melihat diri sendiri dan hubungan mereka. Rooney mengeksplorasi bagaimana
perbedaan kelas sosial dalam suatu hubungan dapat memunculkan dampak. Connell
yang berasal dari kelas pekerja sering merasa rendah diri di hadapan
teman-teman Marianne yang kaya. Meskipun Connell pintar, hal itu lantas tidak
membuatnya lebih baik. Kepintaran itu hanyalah membuat Connell semakin
menyadari kesenjangan kelas yang ada. Connell yang kesulitan secara finansial
membuatnya merasa rendah diri dan kesusahan mengekspresikan dirinya dalam
hubungan romantis yang ia jalani. Adapun Marianne, ia peduli dengan Connell,
namun privilesenya sebagai individu dari kelas atas menjadi alasan mengapa ia
tidak mengerti tekanan yang Connell hadapi. Hambatan itulah yang membawa mereka
pada kesalahpahaman (Fauzi, I., 2025).
Daftar Pustaka
Adlibris. Sally
Rooney – irlantilainen kirjailija. [Foto]. https://www.adlibris.com/fi/kirjailija/sally-rooney
Atkinson, Will. (2025). Bourdieu on love: A latent capital, a primary field and a new research agenda. Jurnal Sociological Review, 73(3), 645—660. https://research-information.bris.ac.uk/en/publications/bourdieu-on-love-a-latent-capital-a-primary-field-and-a-new-resea/
Bourdieu, Pierre. (1990). The
Logic of Practice. (R. Nice, Trans.). Standford University Press.
Collège de France. Tribute
to Pierre Bourdieu. [Foto]. https://www.college-de-france.fr/en/news/tribute-to-pierre-bourdieu
Falvey, Deirdre. (2019, Januari 7). Sally Rooney wins
Costa Novel Award for ‘Normal People’. The Irish Times. https://www.irishtimes.com/culture/books/sally-rooney-wins-costa-novel-award-for-normal-people-1.3750285
Fauzi, Inggrid. (2025). Exploring Social Classes
Impacts to Romantic Relationship in Normal People by Sally Rooney: A Marxist
Analysis. (Skripsi, Sastra Inggris, Universitas Andalas Padang).
Jordan, Tina. (2019, April 26). Sally Rooney’s ‘Normal People’ Debuts on the List at No. 3. The New York Times. https://www.nytimes.com/2019/04/26/books/review/sally-rooney-normal-people-best-seller.html
Louisiana Channel. (2019, Februari 26). Sally Rooney
on Writing with Marxism. [Video]. https://youtu.be/Z1S5bOdJq3U?si=SJ9IWJDWfoNnDjZH
MJS Channel. (2020, April 19). Ngaji Filsafat 63:
Pierre Bourdieu. [Video]. https://youtu.be/hz1WOkzV-Ws?si=-7M4T_B6Xy33OTKO
Munafi, L. O. A. (2024). Teori Habitus dan Ranah
Pierre Bourdieu. Rasulu, H. & Munaeni W. (Eds.), Teori Sosiologi
(hlm. 152 & 157). Jawa Tengah: Eureka Media Aksara.
Mustikasari, M., Arlin, A., & Kamaruddin, S. A. (2023). Pemikiran Pierre Bourdieu dalam
Memahami Realitas Sosial. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial
Humaniora (KAGANGA), 6(1), 9—14. https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/KAGANGA/article/view/5089
Myerson, Julie. (2018, Agustus 26). Normal People by
Sally Rooney review – an elegant love story for a cynical age. The
Guardian. https://www.theguardian.com/books/2018/aug/26/sally-rooney-normal-people-review-elegant-intelligent-tender
Nasronuddin, Muhammad. (2025). Social Stratification
Depicted in Sally Rooney’s Normal People. (Skripsi, Sastra Inggris, UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang). http://etheses.uin-malang.ac.id/51605/1/17320017.pdf
Perspektif Sosiologi. (2021, Januari 3). Pierre
Bourdieu: Habitus dan Arena. [Video]. https://youtu.be/Ci4susJ-QoU?si=tbKPvvFPIkJu3xZp
Thalia. “Normal People” als Hörbuch kaufen.
[Foto]. https://www.thalia.de/shop/home/artikeldetails/A1068966960
Wattimena, Reza A. A. (2012, April 14). Berpikir
Kritis bersama Pierre Bourdieu. Rumah Filsafat. https://rumahfilsafat.com/2012/04/14/sosiologi-kritis-dan-sosiologi-reflektif-pemikiran-pierre-bourdieu/#_ftn1
Weininger, E. B. (2002). Pierre Bourdieu on Social
Class and Symbolic Violence. Wright, E. O. (Ed.), Alternative
Foundations of Class Analysis (hlm. 116 & 129). University of
Wisconsin-Madison USA. https://pages.nyu.edu/jackson/class.analysis/readings/Wright--AltFoundationsClassAnalysis.pdf#page=118
.jpeg)
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar