Langsung ke konten utama

Sinners — Film yang Menghibur Tanpa Kritik yang Mengabur

Sinners (2025) mencetak sejarah sebagai film dengan nominasi Oscar terbanyak sepanjang masa. Pada ajang Academy Awards 2026, film ini berlaga pada 16 nominasi, satu di antaranya adalah nominasi Best Picture.

Berlatar belakang di Mississippi pada tahun 1932, Sinners mengisahkan tentang saudara kembar bernama Smoke dan Stack (keduanya diperankan oleh Michael B. Jordan) yang hendak membangun Juke Joint, yaitu klub hiburan malam khusus kulit hitam. Semula, malam pembuka Juke Joint mereka berjalan lancar. Namun seketika, malam itu berubah menjadi tragedi yang memengaruhi hidup semua yang ada di dalamnya.

 

Pengenalan Karakter

Pengenalan karakter di film ini terbilang cukup lama. Sejak awal hingga pertengahan film, benak saya bertanya, mengapa konfliknya masih abstrak? Di manakah adegan horor yang dijanjikan oleh genre film ini? Dua pertanyaan tersebut terjawab selepas saya menontonnya.

Saya menyadari bahwa durasi yang cukup lama memang dibutuhkan untuk membangun penokohan yang solid. Sehingga, penonton dapat mengenal banyaknya tokoh di film ini, serta melihat kontribusi apa saja yang disumbangkan oleh peran mereka. Saat konflik menyerang, penonton pun dibuat peduli akan nasib masing-masing tokohnya.

Tantangan bagi cerita dengan penokohan yang banyak adalah adanya sebagian tokoh yang kurang dieksplor, sehingga karakter mereka terlupakan, bahkan dirasa tidak penting. Sekalipun pengenalan karakter di film ini terasa sedikit membosankan, Ryan Coogler membuktikan bahwa ia tidak asal-asalan dalam menciptakan para tokohnya. Berkat penulisannya yang kuat inilah ia memperoleh nominasi Best Writing (Original Screenplay).

Film yang hanya menceritakan kejadian di satu malam ini tidak menampilkan adegan kilas balik. Namun lewat dialognya, penonton dibuat memahami apa saja yang dilalui oleh para tokohnya di masa lalu. Dialog-dialog inilah yang membuat dinamika antartokoh terlihat menarik. Ditopang oleh performa para aktor yang mumpuni, chemistry mereka meyakinkan penonton bahwa sesuatu yang pernah menimpa karakter mereka memang memengaruhi cara mereka berinteraksi pada satu sama lain.

Pemilihan jajaran pemain yang cocok ini membuat casting director Francine Maisler mendapat nominasi Best Casting. Tak hanya itu, Oscar juga memberi nominasi Best Actor in a Leading Role kepada Michael B. Jordan yang piawai memainkan peran ganda.

Uniknya, durasi Sinners terasa panjang sekaligus pendek di saat yang bersamaan. Setelah pengenalan karakter yang cukup lama tersebut, konflik pun muncul bertubi-tubi. Konflik-konflik itu disuguhkan dengan seru, sehingga sisa durasi berkurang tanpa terasa.

 

Film yang Menghidupkan Musik

Meskipun genre Sinners bukanlah musikal, namun musik menjadi unsur yang penting dalam film ini. Di tangan komposer Ludwig Göransson, musik yang ia gubah mengiringi adegan-adegan pada Sinners secara pas dan ciamik. Mulai dari “Filídh, Fire Keepers and Griots” yang menghentak di adegan pembuka, “(Delta) Slim’s Patch” yang bergairah di adegan stasiun kereta api, hingga “Bury That Guitar” yang mencekam di bagian klimaks. Keberhasilan Ludwig Göransson yang menghidupkan musik dalam film ini menghantarkannya pada nominasi Best Music (Original Score).

Tak hanya scoring-nya yang patut diapresiasi, soundtrack di film ini pun layak diacungi jempol. Beberapa aktor Sinners menyanyikan ulang lagu-lagu dari musikus kulit hitam, seperti harmonisasi Remmick (Jack O’Connell), Joan (Lola Kirke), dan Bert (Peter Dreams) pada “Pick Poor Robin Clean” yang membuat lagu country karya Lillie Mae “Geetchie” Wiley terdengar lebih ceria, serta menggelegarnya suara Pearline (Jayme Lawson) pada “Pale, Pale Moon”, lagu blues karya Brittany Howard yang membuat kaki tak kuasa untuk tak menari.

Di antara semua lagu tersebut, lagu yang paling menarik perhatian adalah “I Lied to You” (dinyanyikan oleh pemeran Sammie). Meskipun usianya baru kepala dua, tetapi suara Miles Caton terdengar seperti legenda soul James Brown. Lagu ini berhasil menggabungkan elemen blues, sentuhan modern, dan unsur budaya secara proporsional. Sungguh sebuah kepantasan lagu ini menyabet nominasi Best Music (Original Song).

Tak berhenti di situ, Ryan Coogler juga sukses menyutradarai “I Lied to You” menjadi adegan yang ikonik. Kesuksesan tersebut lantas membawanya meraih nominasi Best Directing. Saya merasa menonton Sinners di bangku bioskop adalah keputusan yang tepat. Saya ingat betul, betapa mengesankannya cinematic experience tersebut. Saking terkesimanya, bahkan mulut saya sampai menganga ketika menonton adegan “I Lied to You”.

Sinners benar-benar memperdengarkan lagu yang diciptakan dengan hati. Secara keseluruhan, musik di film ini cocok didengarkan di tengah perjalanan. Lebih tepatnya didengar pada sore hari, saat mobil melaju di jalanan dengan rumput ilalang di sekitarnya. Musik di film ini mengingatkan saya akan lagu folk “Take Me Home, Country Roads” karya John Denver dan lagu country “Daddy Lessons” karya Beyoncé.

 

Kritik Tak Mengabur dari Film yang Menghibur

SPOILER ALERT!

Pada masa itu, Juke Joint lebih dari sekadar klub hiburan. Juke Joint adalah tempat di mana kaum kulit hitam aman menjadi diri mereka sendiri tanpa rasisme dari kulit putih. Di tempat itulah mereka mengukuhkan musik sebagai identitas bangsa dan menjadikannya sebagai perayaan kebebasan.

Dialog pertama yang diucapkan film ini adalah terdapat manusia yang terlahir dengan bakat musik yang luar biasa. Selanjutnya, penonton mengetahui bahwa Sammie memiliki bakat itu. Saat ia bernyanyi, suaranya mengundang leluhur yang telah wafat dan orang dari masa depan untuk ikut menari bersama.

Dari kejauhan, suara Sammie yang merdu terdengar oleh Remmick. Hal inilah yang membuatnya ingin masuk ke Juke Joint. Bukan tanpa alasan Remmick dijadikan karakter vampir. Vampir merupakan metafora dari eksploitasi budaya dan kolonialisme. Remmick yang menggigit penduduk satu per satu adalah kiasan dari penjajahan. Sammie menjadi sasaran utama Remmick karena ia hendak menyita bakat Sammie dengan cara menjanjikannya keabadian.

Hal ini mencerminkan permainan bisnis yang merampas hak seniman kulit hitam. Vampir menjadi simbol praktik rakus yang mencuri keuntungan kaum lain tanpa benar-benar menghargai sumbernya. Industri musik telah mengambil alih blues dari kulit hitam, seolah-olah bakat menjadi jaminan yang akan menyelamatkannya dari rasisme.

Dalam kenyataannya, vampir adalah peribaratan dari industri hiburan kulit putih yang selama beberapa dekade telah menyontek suara dan gaya musisi kulit hitam. Saat orang-orang ditanya siapakah musisi bernyawa blues? Nama Elvis Presley, Bob Dylan, dan Eric Clapton terbesit di kepala. Namun, ingatkah publik akan nama musisi blues kulit hitam? Atas refleksi inilah Sinners mengajak penonton agar menolak lupa akan sejarah kelam yang pernah terjadi.

Pada akhirnya, Sammie selamat dari gigitan vampir. Di adegan pasca kredit, Sammie tua hidup sebagai musisi blues yang termasyhur. Hal ini menyiratkan seorang kulit hitam yang bebas. Sammie tua yang diperankan oleh Buddy Guy secara tidak langsung memberi apresiasi padanya, gitaris blues paling terkenal di generasinya.

Di adegan pasca kredit itu, Sammie menyebut meskipun ia kehilangan orang-orang yang ia sayangi karena mereka berubah menjadi vampir, hari itu tetaplah hari terbaik yang pernah ia miliki. Karena untuk sesaat, musik menyatukannya dengan kaum sesamanya. Menyanyi dan menari bersama membuat para kulit hitam ingat akan siapa diri mereka. Merayakan seni merupakan bentuk ekspresi yang melepas penat mereka dari rasisme yang biasa terjadi di luar Juke Joint.

Dari permukaan, Sinners terlihat seperti film horor yang menegangkan dan penuh darah. Namun jika ditelaah lebih lanjut, Sinners tak hanya berperan sebagai film yang menghibur, Sinners juga menyuarakan kritik yang tak mengabur. Film ini berusaha mengingatkan publik bahwa musik blues, soul, folk, jazz, groove, dan R&B yang kita dengarkan hari ini merupakan bagian dari identitas musisi kulit hitam. Jika Anda berekspektasi film ini akan selalu menyajikan adegan horor, maka Sinners bukanlah film yang dapat memenuhi ekspektasi tersebut.

 

Ironi Remmick

SPOILER ALERT!

Remmick berasal dari Irlandia. Ribuan tahun lalu, tanahnya dijajah oleh Inggris dan keluarganya tertular Kristenisasi. Saat Sammie menyanyi, Remmick dapat melihat bahwa suara magis Sammie mengundang kedatangan leluhurnya dari Irlandia. Hal itulah yang membuat Remmick mempertajam gigi taringnya dan meneriaki nama Sammie sembari menyeringai.

Sebagai individu dari bangsa yang terjajah, Remmick kehilangan sesamanya. Ia pun ingin memanfaatkan bakat Sammie untuk menemui para leluhurnya. Namun keterpurukan Remmick mengubahnya menjadi karakter yang ironis. Remmick menanggung kesedihan sebagai korban penjajahan, namun ia sendiri adalah seorang penjajah—Remmick berubah menjadi sosok yang ia benci.

Ironi yang terjadi pada Remmick adalah penggambaran hilangnya identitas budaya yang dialami oleh sebagian besar imigran Eropa ke Amerika Serikat. Krisis identitas itu membuat Remmick secara tidak sadar melanggengkan penjajahan dan membiarkan korban agar turut merasakan apa yang ia rasakan.

Dua orang pertama yang Remmick gigit adalah Bert dan Joan, sepasang suami-istri anggota klan supremasi kulit putih. Mungkin saja Remmick sengaja menggigit mereka karena mereka rasis. Sebelum Bert digigit, Joan diberi tahu oleh seorang Choctaw (Mark L. Patrick) bahwa Remmick tak seperti yang ia lihat.

Choctaw adalah suku asli Amerika yang menetap di Mississippi. Secara historis, Suku Choctaw menjalin persahabatan dengan Irlandia pada tahun 1840-an. Suku Choctaw menyumbangkan uang untuk membantu Irlandia selama kelaparan yang disebabkan oleh kebijakan kolonial Inggris.

Maka, saat seorang Choctaw memperingati Joan bahwa Remmick tak seperti yang terlihat, ia mengisyaratkan bahwa Remmick bukanlah representasi perlawanan Irlandia, melainkan ia adalah perwakilan semangat penjajahan.

Sebelum memasuki rumah mangsanya, Remmick meminta izin kepada sang pemilik rumah, bolehkah ia masuk? Dalam cerita rakyat tradisional, rumah diartikan sebagai tempat yang suci, diberkahi, dan dilindungi. Karenanya, vampir tidak boleh memasuki rumah tanpa permisi, ia harus diterima terlebih dahulu agar dapat memperoleh kekuasaan. Secara implisit, vampir disamakan dengan penjajah yang meminta izin kepada penduduk asli agar dapat memasuki area jajahan.

 

Aspek Rasial Lainnya

SPOILER ALERT!

Tak hanya menyoroti musik dan vampir, film ini juga membahas aspek rasial lainnya. Dalam sebuah dialog, Delta Slim (Delroy Lindo) berucap, “See, white folks, they like the blues just fine… They just don’t like the people who make it.” Kalimat itu seakan mempertegas bahwa pencipta musik blues sekalipun tidak mampu menyelamatkan dirinya dari perlakuan rasis.

Romansa Stack dengan mantan kekasihnya yang berkulit putih, Mary (Hailee Steinfeld) menjadi dinamika hubungan yang menarik untuk diikuti. Mary melayangkan protes pada Stack yang pergi meninggalkannya lalu menjodohkannya dengan pria kulit putih. Mary berkata, “I didn’t wanna be white, I wanted to be with you.”

Meskipun Mary bertumbuh dengan orang-orang kulit hitam, Stack mengungkapkan bahwa ia meninggalkannya karena ia ingin Mary aman di lingkungan sesama kulit putihnya. Hal ini menunjukkan bahwa aspek rasial dapat menjadi penghalang bahkan dalam ruang cinta sekalipun. Namun, sejak kapankah Mary mengenal Stack? Ia mengenal Stack karena ibunya membesarkan si kembar agar mereka aman dari kekerasan klan supremasi kulit putih.

Remmick disebut sebagai tokoh antagonis di film ini. Namun, tokoh antagonis sesungguhnya adalah klan supremasi kulit putih yang dipimpin oleh Hogwood (Dave Maldonado). Smoke dan Stack membeli tanah untuk Juke Joint dari Hogwood. Smoke telah mewanti-wanti Hogwood agar jangan macam-macam dengannya, karena Smoke akan menghabisi klan supremasi kulit putih bila Hogwood bertingkah. Hogwood berkata klan itu sudah tidak ada, namun ia berbohong.

Saat Remmick menyebarkan propaganda vampirismenya, ia mengakui bahwa ia sudah tahu Hogwood akan membunuh Smoke. Remmick pun menawarkan lebih baik Smoke digigit oleh Remmick sebelum ia dibunuh oleh Hogwood. Pengakuan Remmick itu benar karena pada hari berikutnya, Hogwood dan para anggota klan berencana menghancurkan Juke Joint serta membunuh para kulit hitam.

Rencana itu gagal karena orang-orang yang mendatangi Juke Joint telah berubah menjadi vampir. Namun hal itu tidak membuat semangat Hogwood surut, ia dan para anggota klan tetap menghancurkan Juke Joint. Smoke yang menyadari rencana itu lantas membunuh para anggota klan, hingga sampailah ia pada sang pemimpin klan. Rasisme menjadi aspek yang kental dalam film ini karena saat Hogwood sedang sekarat pun, ia masih sempat-sempatnya memaki n word pada Smoke.

 

Mengapa film ini diberi judul Sinners?

Seperti yang tertulis pada slogan di poster film, maka jawabannya akan Anda temukan ketika mengetahui dosa-dosa apa yang diperbuat oleh para karakternya. Namun, ada satu hal yang lebih berdosa, yakni Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat adalah negara yang didirikan oleh para pendosa. Tak hanya mengusir penduduk aslinya, Amerika Serikat juga menjajah bangsanya sendiri.

Sinners adalah sebuah pengingat bahwa rasisme dapat terjadi bahkan dalam ruang bermusik sekalipun. Lewat komentar sosial inilah, penonton dapat mencari tahu tentang seluk-beluk rasisme yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Sinners adalah upaya memadupadankan film blockbuster yang tak lupa akan konteks sosio-historis.

 

Di luar semua aspek yang telah disebutkan, teknis menjadi aspek yang tak kalah unggul dari film ini, contohnya saja sinematografi. Tak hanya menaruh atensi pada adegan mewah seperti pengambilan view yang menawan, adegan kecil pun tak luput dari perhatian sinematografer Autumn Durald. Adegan sesederhana Lisa (Helena Hu) yang berjalan dari satu toko ke toko sebelahnya direkam secara sinematik. Tak kaget bila ia menerima nominasi Best Cinematography.

Secara keseluruhan, Sinners adalah film yang tak hanya menjual hiburan dibalut teknis yang menawan, Sinners juga menjadi rambu pengingat bahwa pada tahun 1930-an, begitulah keadaan Amerika Serikat. Isu rasisme yang diangkat memang tidak eksplisit, namun lewat makna-makna yang tersembunyi itulah Sinners mengajak penontonnya untuk kembali merenungkan sejarah yang hampir terlupakan.

 

Referensi

Foto: IMDb, Cultura, Reddit, Screen Rant, Facebook, Villains Wiki, Instagram

https://ganpy.medium.com/i-lied-to-you-966b9df832ac

https://www.cultura.id/sinners-review

https://screenhub.blog/2025/04/23/sinners-spoiler-free-review-screenhub-entertainment/

https://villains.fandom.com/wiki/Remmick_(Sinners)

https://sinnersmovie.fandom.com/wiki/Choctaw

https://youtu.be/B2rxDfxzoBA?si=Ppxx-5_cFSGVxTSF

Komentar