“Hukma
dan Zahra, penampilan kalian bagus!” Pujian tersebut dilontarkan oleh beberapa
masyarakat filsafat sesaat setelah kami membawakan kisah Peternakan Hewan di
atas panggung.
Alih-alih
menerima pujian mereka, kami malah meyakini hal lain. Menurut keyakinan kami,
bila George Orwell menyaksikan adaptasi versi kami, ia akan menutup wajahnya
dengan rasa malu sembari bertanya, “Apa yang mereka lakukan terhadap ceritaku?”
Masalahnya,
persiapan kami minim sekali. Kurangnya waktu latihan mengakibatkan kami lupa
akan dialog masing-masing. Suasana pun mendadak hening, menyisakan dua
pendongeng yang saling menatap mata secara canggung, seraya berusaha mengingat
dialog apakah yang seharusnya diucapkan.
Berbanding
terbalik dengan pujian yang disampaikan oleh kawan-kawan kami, kami malah tidak
puas dengan penampilan sendiri. Ekspektasi “kita akan memasak hari ini”
menjelma menjadi ilusi yang membakar kami hingga gosong.
Saking
tidak puasnya dengan pementasan yang terletak di bawah standar itu, kami
percaya bahwa kami dipuji bukan karena pertunjukan kami baik, melainkan karena
mereka merasa tidak enak jika tidak membicarakan hal-hal yang menyenangkan di
depan kami.
Oleh
karena itu, kami berencana mengganti buruknya pementasan itu dengan pertunjukan
lain yang lebih layak untuk ditonton. Agenda filsafat selanjutnya adalah Studi
Babarayaan (SB). Kami berambisi untuk “menebus dosa” dengan cara kembali
melakukan storytelling, kali ini di
panggung SB.
Namun
situasi akhir-akhir ini, seperti lebih memilih tidur daripada memikirkan konsep
storytelling, membuat ambisi kami
redup. Kami yang semula mengatakan, “Kita balas di SB,” kini berubah pikiran. Gak usah dibalas lah!
Komentar
Posting Komentar