Langsung ke konten utama

Character Development

Foto: Pinterest
 
“Hukma dan Zahra, penampilan kalian bagus!” Pujian tersebut dilontarkan oleh beberapa masyarakat filsafat sesaat setelah kami membawakan kisah Peternakan Hewan di atas panggung.
Alih-alih menerima pujian mereka, kami malah meyakini hal lain. Menurut keyakinan kami, bila George Orwell menyaksikan adaptasi versi kami, ia akan menutup wajahnya dengan rasa malu sembari bertanya, “Apa yang mereka lakukan terhadap ceritaku?”
Masalahnya, persiapan kami minim sekali. Kurangnya waktu latihan mengakibatkan kami lupa akan dialog masing-masing. Suasana pun mendadak hening, menyisakan dua pendongeng yang saling menatap mata secara canggung, seraya berusaha mengingat dialog apakah yang seharusnya diucapkan.
Berbanding terbalik dengan pujian yang disampaikan oleh kawan-kawan kami, kami malah tidak puas dengan penampilan sendiri. Ekspektasi “kita akan memasak hari ini” menjelma menjadi ilusi yang membakar kami hingga gosong.
Saking tidak puasnya dengan pementasan yang terletak di bawah standar itu, kami percaya bahwa kami dipuji bukan karena pertunjukan kami baik, melainkan karena mereka merasa tidak enak jika tidak membicarakan hal-hal yang menyenangkan di depan kami.
Oleh karena itu, kami berencana mengganti buruknya pementasan itu dengan pertunjukan lain yang lebih layak untuk ditonton. Agenda filsafat selanjutnya adalah Studi Babarayaan (SB). Kami berambisi untuk “menebus dosa” dengan cara kembali melakukan storytelling, kali ini di panggung SB.
Namun situasi akhir-akhir ini, seperti lebih memilih tidur daripada memikirkan konsep storytelling, membuat ambisi kami redup. Kami yang semula mengatakan, “Kita balas di SB,” kini berubah pikiran. Gak usah dibalas lah!

Komentar