Seberapa jauh obsesi dapat merasuki seseorang sampai ia kehilangan dirinya sendiri? Pertanyaan itu terasa mengemuka ketika menyimak Bayu (Angga Yunanda), tokoh utama dalam film Para Perasuk (2026), mengubah seni yang ia cintai menjadi obsesi yang justru membuatnya lupa mengapa ia mencintai seni tersebut sedari awal.
Film Para Perasuk berlatar di Desa Latas, sebuah desa kecil di pinggiran kota, yang berjarak dua jam dari Jakarta. Alkisah, warga Latas biasa mengadakan hajatan kerasukan yang mereka sebut sebagai Pesta Sambetan. Alih-alih menjadikan kesurupan massal sebagai hiburan yang mengerikan, warga Latas justru menjadikan Pesta Sambetan sebagai perayaan yang menyenangkan. Pengiring musik di pesta itu dijuluki para perasuk. Musik yang mereka mainkan menyalurkan roh hewan pada para pelamun, peserta pesta yang kerasukan. Terdapat 20 roh yang “memabukkan” pelamun, seperti roh bulus yang mengubah pukulan rotan menjadi pijatan, roh kupu-kupu yang menerbangkan pelamun ke taman bunga, hingga roh kutu yang meloncatkan mereka tinggi-tinggi. Konsep ini membuat Para Perasuk tak menggolongkan dirinya sebagai film horor. Dalam Pesta Sambetan, kerasukan tidak identik dengan ketakutan, melainkan menjadi bentuk kesenangan.
Namun, kesenangan di Pesta Sambetan berubah menjadi ketegangan. Pasalnya, perusahaan bernama PT. Wanaria berencana membeli kawasan mata air di Desa Latas dan berniat menggantinya menjadi hotel. Hal ini mengancam warga Latas karena mata air adalah sumber kehidupan yang terancam digusur. Selain itu, area mata air juga menjadi tempat keramat bagi para perasuk untuk menemukan roh. Atas ancaman itulah, Guru Asri (Anggun C. Sasmi), Ketua Sanggar Pusat di Desa Latas, mencari perasuk utama baru yang kelak memimpin perhelatan akbar sambetan. Pencarian ini dilakoninya lewat kompetisi yang mengikutsertakan para perasuk seperti Bayu, Pawit (Chicco Kurniawan), dan Ananto (Bryan Domani). Lewat perhelatan akbar sambetan inilah, Sanggar Pusat mengadakan saweran dengan maksud mengumpulkan dana sebesar Rp 250 juta yang akan dipakai untuk menebus kembali wilayah mata air itu.
Dalam proses mewujudkan ambisi menduduki kursi perasuk utama, Bayu berlatih sembari ditemani seorang pelamun yang ia sukai, Laksmi (Maudy Ayunda). Proses itu tidak berjalan mulus karena ambisi Bayu menjelma menjadi sesuatu yang berbahaya. Kecemburuannya terhadap interaksi Laksmi dengan Pawit, rasa irinya kepada kemampuan bermusik Ananto, hingga amarahnya pada sang ayah (Indra Birowo) yang tergiur menjual rumahnya pada PT. Wanaria menjadi kail yang memancing obsesi Bayu. Ia ingin membuktikan pada mereka bahwa ialah yang paling layak menjadi sang perasuk terbaik. Keinginan itu menguasainya kala Bayu terobsesi menghadirkan roh lintah, roh yang selama dua dekade telah absen di Pesta Sambetan. Demi menjumpai roh unik itu, ia berlatih dengan cara menyiksa diri. Selama berhari-hari, Bayu melata, mengesot, dan melintir dari sekitar mata air ke jalanan aspal hingga tak sadarkan diri.
Tibalah Bayu pada hari penentuan perasuk utama. Ia berhasil menghadirkan roh lintah, namun gagal mendatangkan kesenangan akibat amarahnya. Bila batin sang perasuk menyimpan amarah, amarah itu akan tertular pada para pelamun. Emosi perasuk adalah perasaan yang tidak dapat dipisahkan dari musik yang ia bunyikan. Amarah Bayu terhadap ayahnya, Laksmi, Pawit, dan Ananto turut menggelisahkan suasana hati para pelamun. Obsesi yang merasuki Bayu membuatnya lupa bahwa Pesta Sambetan diciptakan sebagai eskapisme yang menyenangkan. Bayu tak ingat bahwa ia berambisi menjadi perasuk utama karena ia ingin mempertahankan tanah Latas, bukan karena ia ingin membalas kemarahannya kepada sang ayah, mendapatkan Laksmi, menyaingi Pawit, ataupun mengalahkan Ananto.
Apa yang dialami Bayu dapat dikategorikan sebagai the obsessed artist, yakni karakter film yang memperlihatkan bagaimana obsesi terhadap seni dapat membabi-buta manusia. Seni yang semestinya menjadi alat berekspresi beralih fungsi menjadi sesuatu yang wajib dibuat sempurna, sehingga perfeksionisme menjebak diri senimannya. Dalam dunia sinema, film-film tentang the obsessed artist seperti Whiplash (2014) dan Black Swan (2010) telah menunjukkan bagaimana manusia rela mengorbankan kewarasannya demi mencapai kehebatan. Sama seperti Para Perasuk yang membawa medium the obsessed artist ke dalam sebuah pertanyaan, seberapa jauh obsesi merasuki Bayu sampai ia merusak dirinya sendiri? Dalam film ini, pertanyaan itu tidak berhenti pada konflik pribadi Bayu, tetapi meluas pada PT. Wanaria. Sejauh apa obsesi membuat perusahaan itu bersikeras membeli daerah mata air, sampai harus mengabaikan hak warga Latas?
Wregas Bhanuteja, sutradara Para Perasuk, mengungkapkan dalam siniar The Maple Media berjudul Rewind with Wregas Bhanuteja: Lika-Liku Perjalanan dari Film Pendek hingga Layar Lebar bahwa obsesi menjadi fondasi penting dalam Para Perasuk. Wregas mengatakan bahwa obsesi terkadang membuat seseorang merampas hak orang lain, sama seperti PT. Wanaria yang terobsesi meningkatkan kekayaan bagi perusahaannya sendiri, dan mengorbankan warga Latas sebagai gantinya.
Dalam siniar itu, Wregas mengakui bahwa cerita film ini terinspirasi dari pamannya yang menjaga suatu kawasan mata air. Jika kawasan itu diakuisisi oleh perusahaan, sawah-sawah di sekitar takkan tumbuh subur. Hal itulah yang membuat warga di sana mencetuskan sebuah dongeng. Mata air itu jangan diganggu karena konon katanya merupakan tempat tinggal seorang peri. Dongeng itu dibangun dengan tujuan menjaga mata air dari gangguan manusia. Obsesi perusahaan dalam konflik agraria memantik ide Wregas. Menurutnya, obsesi itu sama seperti orang kerasukan. Ia pun menelusuri budaya kerasukan di Indonesia yang melibatkan roh. Ia tertarik mengisahkan budaya ini bukan sebagai ritual yang menyeramkan, melainkan sebagai tradisi bersenang-senang dengan sesuatu yang tak tampak.
Dalam penciptaan tokoh Bayu, Wregas berterus terang bahwa Bayu merupakan cerminan dirinya. Wregas adalah orang yang ambisius, banyak ambisinya yang membuat ia lupa akan kehidupan personalnya. Hal ini memicu pertanyaan dalam benaknya, sebanyak apakah waktu personal yang terbuang karena ia terhanyut dalam obsesinya? Wregas menyadari, film itu potret kehidupan. Lantas, mengapa ia melupakan kehidupannya sendiri?
Wregas menambahkan, ada kalanya obsesi memasuki seseorang hingga ia lupa untuk apa bersenang-senang. Sama halnya dengan Bayu, di satu sisi, ia bertugas membuat pelamun senang melalui roh di Pesta Sambetan. Namun di saat yang bersamaan, akibat terobsesi menjadi perasuk utama, ia malah menyakiti dirinya sendiri. Lewat tokoh Bayu, Wregas berpesan bahwa sebergairah apa pun kita dengan bidang yang kita tekuni, jangan sampai kita melupakan orang-orang di sekeliling kita.
Di tengah ambisi yang menyelimuti manusia dalam meraih kesuksesan, dan obsesi perusahaan demi meraup keuntungan via konflik agraria, Para Perasuk hadir sebagai film yang melamunkan kita ke dalam sebuah refleksi. Sudahkah kita menjaga ambisi kita dengan kesadaran, agar ambisi itu tidak menjadi obsesi yang menindas orang lain?
Sumber

Komentar
Posting Komentar