Langsung ke konten utama

Rumah Itu

Aku tidak memilih lahir di rumah itu.
Rumah di mana papan aturan dipaku rapat di dinding. Tidak berhak dilepas, apalagi dilanggar.
Rumah di mana papan aturan dipajang tinggi. Suci, tidak dikotori debu.
Peraturan itu dilafalkan dengan lantang, memantul di lorong, menggema di sudut ruangan, mengendap di atap.
Volumenya terlampau keras, bahkan menenggelamkan suaraku.
 
Aku tidak mengerti mengapa penghuni rumah itu memampangkan papan aturan.
Sebab, tiap kutanya untuk apa aku ikuti aturan itu, mereka selalu menjawabku dengan sebuah kalimat, “Sudahlah, patuhi saja. Kalau tidak, kita akan dihukum.”
Kalimat itu diulang lima kali sehari, bagai dering alarm yang mengingatkan penghuninya akan hukuman.
 
***
 
Penghuni rumah itu melempar selembar kain pada rambut yang kurawat sepenuh hati, “Tutupi! Kau tidak boleh mengekspresikannya.”
Pakaian pendekku dipaksa menghilang ke dasar lemari, “Jangan sampai penghuni laki-laki melihatmu mengenakannya.”
Seakan perempuan sepertiku dikutuk hanya karena aku menjadi diriku sendiri, seolah larangan itu membuat rumah ini lebih tepat disebut penjara.
 
***
 
Temanku tidak memilih lahir di rumah itu.
Rumah yang tidak mengarahkan akarnya untuk mencari air, melainkan agar ia tidak tumbuh menyimpang.
Rumah yang menuntunnya agar berjalan lurus, padahal ia tidak pernah tersesat.
Rumah yang mengajarinya kasih sayang, namun menamai cintanya sebagai dosa.
Rumah yang tidak paham bahwa ia bukanlah nahkoda yang memegang kendali kepada siapakah kapalnya berlabuh.
 
Penghuni rumah itu menargetkan temanku sebagai buronan yang layak ditangkap.
Namun ketika ia menyanyikan keluhannya lewat lagu, mereka turut bersenandung.
Mereka menolak hidupnya, tetapi menikmati karya yang lahir dari kehidupan itu.
 
***
 
Aku percaya dengan keberadaan Sang Pemilik Rumah.
Tetapi, mengapa gerbang keselamatan menuju-Nya dijaga ketat oleh satpam yang menakutkan?
Mengapa aturan ini bak rantai yang mencekik leher kebebasanku?
Dan mengapa dada sesakku justru bernapas lebih lega ketika kakiku berjarak dari rumah itu?
 
Aku pun pergi, melangkahkan jejakku.
Kini, aturan itu hanyalah sayup yang terdengar makin sunyi.
Rumah itu adalah agama, dan aku perlahan menjauh darinya.
 
Jul '26

Komentar