Foto: 4K Wallpapers
Saat membuka aplikasi Twitter (aku
enggan menyebutnya X), kulihat akun NASA membagikan foto bulan dan bumi yang dipotret
dari ruang angkasa. Rupanya, empat astronot mereka baru saja menjalani Artemis
II, misi terbang lintas bulan. Kepada Variety, para astronot mengungkapkan
bahwa mereka menonton film Project Hail Mary beberapa saat sebelum roket mereka
lepas landas.
Project Hail Mary adalah film yang
diadaptasi dari novel terbitan 2021 berjudul sama karya Andy Weir. Di Indonesia,
film ini tayang mulai 8 April 2026. Sementara itu, Artemis II memulai misinya
pada 1 April 2026. Momentum berdekatan inilah yang membuat para warganet
menemukan titik kebetulan. Kembalinya manusia ke luar angkasa berbarengan
dengan dirilisnya film fiksi ilmiah yang laris di pasaran. Lantas, bercerita tentang
apakah Project Hail Mary itu?
Film non-linear ini dibuka dengan
adegan seorang pria berumur 30an bernama Ryland Grace (diperankan oleh Ryan
Gosling) yang terbangun sendirian di pesawat ruang angkasa. Grace tampak
bingung, siapakah ia dan mengapa ia bisa ada di sini? Seiring berjalannya
waktu, Grace mulai ingat bahwa ia adalah guru sains SMP yang ditugaskan untuk
menjalani proyek Hail Mary. Hail Mary adalah proyek penyelamatan bumi dari
astrophage, mikroba pemakan energi bintang yang diprediksi akan meredupkan cahaya
matahari dalam 30 tahun ke depan.
Project Hail Mary tak hanya membawa
penonton pada misi penyelamatan bumi. Lebih jauh lagi, film ini mengajarkan
arti persahabatan lewat interaksi Grace dengan Rocky (disuarakan oleh James Ortiz),
seekor alien cerdas yang membantu Grace menggagalkan upaya astrophage dalam menghantam
matahari. Hubungan mereka menyadarkan penonton bahwa pintar saja tak cukup,
ilmuwan juga butuh sifat humanis dalam memahami alam semesta. Narasi yang indah
bukan? Namun, apakah mutu film ini sama indahnya dengan narasi itu?
Project Hail Mary adalah tipikal film
yang mengingatkan kita mengapa kita pergi ke bioskop dan mengapa kita jatuh
cinta dengan sinema. Film ini memperdengarkan audio yang begitu jelas, serta mempertunjukkan
visual yang memanjakan mata. Tentunya, pengalaman sinematik itu takkan kita
rasakan bila kita hanya menontonnya dari layar gawai. Karenanya, aku
menyarankanmu untuk menonton film ini dari layar sebesar mungkin, terutama layar
IMAX yang di Bandung sendiri hanya tersedia di bioskop XXI Mall Summarecon.
Saat menyaksikan Project Hail Mary di
studio IMAX, mulutku tak henti tercengang akan sinematografinya yang memukau.
Dialog “amaze, amaze, amaze!” yang
diucapkan Rocky adalah kalimat yang bergema dalam ruang hatiku. Audio dalam
film ini juga mampu menghasilkan getaran yang terasa langsung pada kursi
penonton. Hal itu didukung dengan penempatan scoring atau musik yang mengiringi alur cerita. Daniel Pemberton
selaku komposer paham kapan scoring
harus terdengar megah dan kapan harus sunyi.
Film ini tak hanya mengandalkan teknis sebagai
satu-satunya keunggulan, tetapi juga ditopang oleh akting Gosling yang
menonjol. Sebagai pembaca novel Project Hail Mary, aku mengerti mengapa Gosling
cocok memerankan Grace. Dalam buku, Grace digambarkan sebagai karakter yang
tampak sederhana, namun sebenarnya reflektif. Gosling berhasil menghidupkan
karakter ini dengan cara yang tenang dan tidak dramatis, tapi tetap dalam dan
emosional.
Grace bukan sosok jenius yang serta-merta
tahu segalanya, melainkan seorang pembelajar yang terus bergerak maju, meskipun
ia menapaki jalan keraguan. Pendekatan inilah yang menjadikannya terasa
manusiawi. Project Hail Mary tak semata-mata mengisahkan misi penyelamatan
dunia, juga berkisah tentang Grace yang menemukan harapan di tengah kemelutan.
Kendati demikian, Project Hail Mary tak
luput dari keterbatasan. Film ini terbatas pada hal-hal rinci dalam buku yang
kurang digali dalam film. Film ini terasa seperti versi ringkas dari novel tebal
berjumlah hampir 500 halaman itu. Bagian sains dalam film ini memang tergolong lebih
ringan bila dibandingkan dengan film-film fiksi ilmiah lainnya. Namun bagi
orang sepertiku yang kesulitan memahami pelajaran sains semasa sekolah, bagian sains
dalam film ini justru dapat membuat bingung.
Keterbatasan itu tak mengurangi kelayakan
Project Hail Mary untuk ditonton di layar lebar. Film ini patut dilihat dari
bangku bioskop karena keseluruhan elemennya berpadu secara harmonis. Mulai dari
audiovisual, kekuatan narasi, hingga performa Gosling, semua tampil dengan
seimbang. Atas keselarasan inilah, Project Hail Mary digadang-gadang sebagai
kandidat yang akan berkontestasi pada ajang penghargaan film tahun depan.

Komentar
Posting Komentar