Tiga Jenis Teologi yang Saya Pahami
Terdapat
setidaknya tiga jenis Teologi yang dianut oleh orang Islam. Sepemahaman saya,
berikut adalah gasir besarnya:
1)
Teologi Klasik: Pembelajaran agama
Islam yang konservatif karena masih memegang teguh pada ajaran kuno.
2)
Teologi Kontekstual: Sesuai dengan
namanya, Teologi ini menyesuaikan penyampaian ajarannya dengan konteks yang
ada. Misalnya saja penyebaran agama Islam menggunakan wayang yang dilakukan
oleh walisongo.
3)
Teologi Pembebasan: Bertujuan
menjadikan agama sebagai solusi untuk membebaskan kaum yang terdzolimi.
Teologi yang Ayah Anut
Penjelasan
tiga jenis Teologi ini mengingatkan saya akan Ayah. Ketika kami berkumpul,
kadang kala ia menyempatkan diri untuk mengadakan pengajian keluarga, serta
membicarakan Tuhan di sana. Pembicaraan tentang Tuhan tidak berhenti di ruang
lingkup pengajian keluarga saja. Terkadang, pembicaraan itu juga muncul saat kami
bercakap-cakap tentang keseharian. Contoh, Ayah percaya bahwa tugasnya di dunia
ialah menjalani yang terbaik. Sedangkan sisanya? Ia serahkan pada “Tangan
Tuhan.” Percakapan seperti inilah yang membuat saya bertanya, Teologi apakah
yang dianut oleh Ayah?
Kemarin,
saya dan Ayah bercengkerama via telepon. Selepas saya jelaskan ketiga jenis
Teologi itu, alih-alih menyebutkan satu Teologi yang ia anut, ia malah mengatakan
bahwa ia cenderung mengambil hal-hal yang baik dari tiga aliran itu. Ayah tidak
melabeli dirinya menganut satu aliran saja secara total.
Pendapat Ayah tentang Teologi Klasik
Saat
ditanyai pendapatnya mengenai Teologi Klasik, Ayah mengaku bahwa ia cenderung
menganut Teologi lain dibanding Teologi ini. Ia mengkritik penganut total
Teologi Klasik yang terlalu mewajarkan ayat. Misal, orang yang berpasrah diri
karena “sudah takdirnya begitu.” Bagi Ayah, sifat seperti ini justru menjadikan
agama sebagai kedok, tameng, bahkan hiburan bagi orang yang enggan berusaha.
Namun,
Ayah tak sepenuhnya menyalahi Teologi Klasik. Ia juga melihat sisi positif dari
Teologi ini. Teologi Klasik tetap penting dipelajari sebagai pegangan dan
pedoman beragama. Teologi Klasik adalah dasar pengetahuan, namun hanya
mengandalkan Teologi ini saja belumlah cukup. Menurut Ayah, kitab suci memang
final, namun tidak dengan tafsirnya. Ayah membuka diri untuk perubahan tafsir
karena tafsir itu bisa benar, bisa pula keliru. Baginya, memahami Teologi
Klasik dengan imajinasi adalah tambahan yang diperlukan. Imajinasi yang Ayah
maksud membawa saya pada percakapan mengenai Teologi Kontekstual.
Pendapat Ayah tentang Teologi Kontekstual
Ayah
merasakan bahwa dalam menjalani hidup, gunakanlah imajinasi kontekstual. Dalam
konteks ini, Ayah menjadikan kisah Nabi Yaqub sebagai contoh. Ayah sempat terheran-heran,
apa yang istimewa dari Nabi Yaqub? Mengapa Al-Quran menceritakan kisahnya? Saat
mencoba mengaitkan kisah Nabi Yaqub dengan konteks masa kini, di situlah Ayah
mulai mengerti.
Dalam
Al-Quran, Nabi Yaqub diceritakan sebagai sosok ayah yang sabar dalam menasihati
anak-anaknya. Ayah membayangkan bahwa sifat tersebut adalah gambaran yang dapat
ditiru oleh para guru hari ini. Sebagai seseorang yang bekerja di bidang
manajemen pendidikan sekolah dasar dan menengah, Ayah mengamati bahwa
murid-murid zaman sekarang mendapat akses informasi yang lebih luas. Sehingga,
mengajari murid yang sudah tahu menjadi tantangan baru bagi guru. Dulu, memberi
intruksi untuk mempatuhkan murid adalah hal yang lumrah terjadi, namun cara itu
tidak lagi cocok jika diterapkan bagi murid masa kini.
Dari
upaya mengkontekstualisasi kisah Nabi Yaqub dengan persoalan guru hari ini,
Ayah belajar bahwa dalam menghadapi para murid, guru perlu menteladani sifat
Nabi Yaqub. Nabi Yaqub memang penyabar, namun ia tidak mengizinkan kesabarannya
untuk membiarkan anak-anaknya begitu saja. Ia terus menasihati mereka tanpa
pernah memberikan paksaan, pola itu berlangsung secara konsisten. Saat Nabi
Yaqub marah pun, amarahnya tetap terkontrol.
Ayah
membaca kisah Nabi Yaqub dari kacamata Teologi Kontekstual. Menurutnya, Teologi
Kontekstual pun tidak luput dari kritik. Bagi Ayah, penganut total Teologi ini condong
akan kebablasan dengan pola pikir yang terlalu antropologis. Teologi ini
berangkat dari manusia, sehingga dikhawatirkan bahwa penganut totalnya akan berpikir
dari sudut pandang manusia saja. Ayah menganggap hal ini berbahaya karena
makhluk hidup bukan hanya manusia. Ayah juga risau Teologi ini akan membawa
penganut totalnya pada pelanggaran batas, yaitu mengkontekstualisasikan ajaran
agama dengan hal-hal yang berada di luar batas agama.
Di
luar itu, Ayah tetap menganggap bahwa Teologi Kontekstual berfungsi membawa
orang Islam pada hidup yang lebih bermakna. Namun, merasakan kebermaknaan hidup
akan berhenti di dalam diri individu saja bila individu tersebut tidak
menyebarkan manfaat pada sekitarnya. Dalam hal penyebaran manfaat inilah,
Teologi Pembebasan memainkan perannya.
Pendapat Ayah tentang Teologi Pembebasan
Agar
ajaran Teologi memiliki kebermanfaatan bagi banyak pihak, Ayah menganggap bahwa
diperlukan upaya berpolitik. Dalam hal ini, Teologi Pembebasan mendukung
cakupan yang lebih luas. Agar ide tentang membebaskan diri dari ketidakadilan
tidak berada dalam lingkup pribadi saja, Teologi ini menawarkan solusi untuk
menjadikan ajarannya sebagai sistem. Lewat aturan yang didasari oleh Teologi
ini, umat Islam dilindungi dengan hukum yang membebaskannya dari penderitaan.
Mengapa
Teologi ini diperuntukkan bagi kaum miskin? Kata Ayah, dalam sejarahnya, para
nabi adalah pembela kaum tertindas. Namun, Teologi ini tidak hanya melibatkan
orang miskin. Dalam Teologi Pembebasan, orang kaya bertugas mengayomi orang
miskin. Ayah mengambil kisah Dzulkarnain sebagai contoh. Saat ia berhadapan
dengan orang primitif, ia tidak mengeksploitasinya, sikap seperti itulah yang
dapat pemimpin ikuti.
Menurut
Ayah, Teologi Pembebasan pun tak luput dari kecacatan yang dapat dialami oleh
penganut totalnya. Bila tidak dibersamai dengan strategi yang realistis,
perjuangan akan mentok di tengah jalan. Sah-sah saja bila punya konsep ideal
tentang pembebasan, namun konsep itu hanya berputar di kepala kalau yang
memilikinya tidak melihat realitas sekitar.
Lantas, Teologi Apakah yang Benar-Benar Ayah Anut?
Pada
intinya, Ayah tidak mengkotak-kotaki dirinya pada satu aliran Teologi saja
secara esktrem. Menurutnya, kebenaran dapat dilihat dari berbagai sisi,
termasuk dalam cara berteologi. Teologi Klasik adalah pijakan awal yang menjadi
sumber pengetahuan orang Islam. Dalam praktiknya, Teologi dapat menyesuaikan
ajarannya dengan konteks kehidupan, seperti yang dimaksudkan Teologi
Kontekstual. Agar ajaran Teologi memberikan kebermanfaatan bagi khalayak umat,
diperlukan sistem yang melindungi warga miskin kota. Di sinilah peran Teologi
Pembebasan berfungsi.
Komentar
Posting Komentar