Beberapa
waktu lalu, jagat maya diramaikan dengan perdebatan satu mahasiswa non-organisasi
dan lima mahasiswa organisasi di kanal YouTube Official 229TV. Perdebatan
tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi dari kegelisahan di
kalangan mahasiswa. Debat itu meninggalkan jejak pertanyaan, apakah mengikuti organisasi
benar-benar bermanfaat, atau justru malah membuang waktu?
Dalam
video berdurasi 44 menit itu, mahasiswa non-organisasi bersikeras bahwa pengembangan
diri lebih efektif—bahkan hanya bisa—dilakukan di luar organisasi. Klaim ini tampak meyakinkan,
terutama bagi mahasiswa yang pernah terlibat dalam organisasi yang tidak
berjalan optimal. Namun, menjadikan pengalaman pribadi sebagai generalisasi
justru terlalu menyederhanakan realitas karena persoalan pengembangan diri
tidak terbatas pada organisasi versus non-organisasi.
Masalah
dalam perdebatan ini terletak pada cara memaknai manfaat. Saat berdebat, mahasiswa
non-organisasi menggarisbawahi bahwa organisasi tidak bermanfaat bagi
anggotanya. Padahal, yang lebih penting bukanlah manfaat apa yang kita terima,
melainkan manfaat apa yang bisa kita berikan, serta sejauh mana kita
memanfaatkan organisasi sebagai wadah pengembangan diri. Jika pikiran kita terpaku
pada “organisasi yang tidak bermanfaat”, bukannya mendapatkan manfaat, kita
malah terjebak pada konsep ketidakbermanfaatan.
Semisal
saja, kita adalah anggota organisasi yang tidak menghadiri rapat karena
mengeluhkan jarak yang harus ditempuh menuju tempat rapat tersebut. Coba
ubahlah cara pandangnya menjadi seperti ini: jarak menuju tempat rapat bukan
masalah karena langkah demi langkah yang kita tempuh adalah bentuk tanggung
jawab terhadap organisasi yang telah kita pilih. Kemampuan berkomitmen dapat
menjadi alat ukur dalam melihat kapasitas diri. Pengalaman seperti itulah yang bisa
dijadikan latihan bagi pertumbuhan karakter.
Hal
tersebut selaras dengan konsep growth
mindset yang dikemukakan Carol Dweck, psikolog dari Stanford University.
Dilansir dari telkomuniversity.ac.id, growth
mindset adalah pola pikir yang menganggap kemampuan seseorang dapat
berkembang melalui waktu dan usaha. Saat dihadapi masalah, individu dengan growth mindset memandangnya sebagai
sebuah kesempatan untuk belajar. Individu dengan mindset ini cenderung memiliki ketahanan diri karena tidak
menghindari tantangan.
Mindset ini dapat pula diterapkan ketika kita tidak memperoleh manfaat
yang kita tuju. Contohnya, kita memasuki organisasi tertentu karena ingin memperoleh
A, namun yang kita peroleh malah B. Kita bisa mengalihkan kekecewaan itu dengan
mengubah cara berpikir. Bagaimana jika kita tidak masalah dengan B karena menganggapnya
sebagai hal baru? Bagaimana jika B memperluas pengetahuan kita?
Dalam
konteks organisasi, growth mindset
menjadi kunci untuk menggeser orientasi dari hasil yang instan ke proses yang
bermakna. Keluhan atas lelahnya berorganisasi dan kekecewaan atas tidak
diperolehnya manfaat yang diinginkan tidak lagi dilihat sebagai kegagalan,
melainkan sebagai peluang untuk meraih sesuatu yang tidak direncanakan, tapi
tetap bernilai. Alih-alih terhimpit dalam ekspektasi yang sempit, mindset ini membuka diri terhadap
kemungkinan lain yang memperkaya pengalaman.
Dengan demikian, debat mahasiswa non-organisasi dengan mahasiswa organisasi sebenarnya keliru sedari awal, karena isi perdebatannya bergantung pada perspektif yang subjektif. Organisasi bukanlah entitas yang secara inheren bermanfaat atau tidak, karena guna organisasi ditentukan dari kontribusi individu di dalamnya.
Komentar
Posting Komentar