Langsung ke konten utama

Perilisan Man's Best Friend: Ketika Album Galau Dikaitkan Politik yang Kacau

Akhir Agustus lalu, warga Indonesia diributkan oleh kelakuan politisiterutama politisi priayang membuat geleng-geleng kepala. Di waktu yang bersamaan, penyanyi kenamaan Sabrina Carpenter merilis album barunya, Man’s Best Friend. Album itu Carpenter dedikasikan kepada pria yang menyakitinya. Alih-alih mengaitkan dengan isu serupa, warganet malah mengasosiasikan album itu dengan keputusan bodoh yang dibuat oleh politisi pria.

 

Pembahasan Manchild: Saat Politikus Blunder dibalas Lagu Carpenter

Ada dua lagu di album ini yang paling menyeret perhatian warganet, satu di antaranya adalah Manchild. Di lagu itu, ada lirik yang berbunyi, “It’s all just so familiar. Baby, what do you call it? Stupid, or is it slow? Maybe, it’s useless? But there’s a cuter word for it, I know, manchild.” Dilansir dari kamus Cambridge, man-child berarti seorang pria dewasa yang tidak berperilaku tenang, serius, atau bijaksana seperti yang diharapkan dari seseorang seusianya. Dalam lagu itu, Carpenter mengolok-olok mantan kekasihnya yang bertingkah kekanak-kanakan.

Lirik lagu Manchild di Spotify


Warganet turut menjadikan Manchild sebagai bentuk sindiran. Bedanya, figur yang mereka sindir bukanlah pria yang mematahkan hati mereka, melainkan politikus pria yang dianggap asal bunyi. Ada banyak video edit yang menggunakan lagu ini seraya menampilkan potongan klip politikus. Seperti klip Fadli Zon yang menyangkal pemerkosaan massal 1998, serta klip Zulkifli Hasan yang berkata keracunan MBG (Makan Bergizi Gratis) terjadi karena siswa tidak terbiasa mengonsumsi bahan masakan tertentu.

Kompilasi politisi yang disebut “manchild”


Pembahasan Nobody’s Son: dari Luka di Dada ke Derita di Negara

Tak berhenti di sana, Nobody’s Son pun turut menarik atensi warganet. Lagu ini bercerita tentang hilangnya kepercayaan Carpenter terhadap kaum pria. Carpenter merasa, pada akhirnya semua pria sama saja. Di bagian bridge, ia berucap, “That boy is corrupt.” Menurut kamus Cambridge, corrupt artinya menggunakan posisi atau kekuasaan secara tidak jujur demi mendapat keuntungan, utamanya demi uang. Lirik ini ditafsirkan oleh warganet untuk menyoroti Bahlil Lahadalia yang menerbitkan izin tambang nikel.

Selanjutnya, Carpenter berujar, “Get PTSD on the daily.” Dilansir dari artikel Mengenal PTSD: Gangguan Mental yang Dipicu oleh Trauma di situs RS Pondok Indah, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) adalah gangguan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Bait ini tak warganet resonansikan pada momen kilas balik dengan mantan kekasih, namun disiratkan untuk trauma kolektif akan fenomena sejarah yang berulang, yakni kembalinya politisi jahatdalam hal ini Prabowo Subiantoke kancah perpolitikan nasional.

Carpenter kembali bersenandung, “He sure fucked me up.” Bait tersebut warganet tujukan kepada Ahmad Sahroni yang menyebut rakyat tolol. Di bait terakhir di bridge ini, Carpenter menegaskan, “And yes, I’m talking ‘bout your baby.” Lirik tersebut mirip dengan lirik dalam Manchild, “I choose to blame your mom” yang menyalahkan pola asuh orang tua atas sifat anak lelakinya yang kekanak-kanakan. Sementara itu, warganet menghubungkan lirik ini pada nepotisme di antara Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka.

Lirik lagu Nobody’s Son di Spotify

 

Dari Lirik ke Politik: Saat Melankolik Jadi Kritik

Konten sindiran terhadap penguasa berisi lagu Manchild dan Nobody’s Son bersebaran di media sosial. Bentuknya macam-macam, ada video edit berdurasi singkat yang diunggah di TikTok, ada pula template “balasan Anda” yang dibagikan oleh warganet melalui cerita Instagram. Bahkan, ada unggahan foto poster demo berisi lagu Manchild. Konten-konten tersebututamanya konten video berdurasi singkattersebar luas sewaktu gelombang aksi massa terjadi. Mengapa demikian?

Demo reset Indonesia berlangsung di tengah maraknya pengguna internet yang chronically online, istilah yang merujuk pada kebiasaan berselancar di dunia maya berjam-jam lamanya. Kebiasaan ini menjadi sasaran trik marketing Carpenter yang kerap kali mempromosikan albumnya lewat video berdurasi pendek. Trik ini efektif karena lagu-lagunya bermunculan di beranda TikTok. Jadi, tak hanya informasi 17 + 8 tuntutan rakyat yang beredar, video edit tentang penguasa yang menggunakan lagu Manchild dan Nobody’s Son pun beredar.

Tangkapan layar di TikTok

 

Algoritma TikTok: Secepat Kilat, Buat Warganet Terpikat

Mengapa penyebaran konten video berdurasi pendek begitu masif? Isu itu dapat dianalisis lewat jurnal The Impact of Short-Form Video Marketing, Influencer Relatability, and Trust Signals on Gen Z’s Purchase Intention (Wahyudi dkk., 2025). Jurnal ini melibatkan 400 responden berusia 18 sampai 27 tahun yang berdomisili di Indonesia dan menonton video berdurasi pendek setidaknya tiga kali dalam seminggu. Sample ini dihitung memakai rumus Cochran yang mengerucut pada 180 pria (45%) dan 220 wanita (55%).

Berdasarkan jurnal ini, Gen Z adalah generasi pertama yang sepenuhnya bertumbuh di era digital. Kesinambungan antara hidup warganet dengan hidup pemengaruh menangkap atensi generasi ini. Carpenteryang merupakan seorang Gen Zberhasil menggaet banyak pendengar dari generasi yang sama. Atas persona dan karyanya yang terasa dekat inilah, tak sedikit Gen Z di Indonesia yang bergurau bahwa aslinya, Carpenter adalah seorang warga Indonesia.

Lebih spesifiknya lagi, TikTok adalah konten yang mendominasi video berdurasi pendek. Dilansir dari artikel The Fix bertajuk Relateable, real, raw: TikTok’s power in news for Gen Z, algoritma TikTok dapat disesuaikan dengan konten yang sering diakses penggunanya. Konten dengan narasi yang relateable sering muncul di beranda. Hal ini terjadi karena Gen Z menginginkan sosok yang dapat merepresentasikan dirinya. Relatability bukan sekadar tren, melainkan aspek inti dari cara Gen Z menangkap informasi.

Dari data di atas, dapat dikatakan bahwa penyebab masifnya penyebaran video berdurasi singkat tidak hanya didasari oleh kebiasaan chronically online, tapi juga dipengaruhi relatability, yaitu kesinambungan antara penonton dengan pemengaruh yang menghadapi masalah serupa. Misalnya lagu galau dari musisi terkemuka yang terasa relate saat didengarkan oleh orang awam yang bersedih. Menurut artikel dari RRI berjudul Kenapa Lagu Galau Sangat Relate Didengarkan Saat Sedih, ada beberapa alasan di balik terjadinya fenomena ini.

Dimulai dari validasi emosional. Ketika seseorang merasa sedih, ada kebutuhan untuk dimengerti. Kebutuhan itu Carpenter upayakan melalui lirik lagunya yang memvalidasi keputusasaan pendengarnya. Keputusasaan itu tak hanya relevan di masalah percintaan, namun juga relevan dengan keadaan sosial politik. Lagu galau juga berfungsi sebagai katarsis, sama halnya seperti warganet yang melampiaskan kekesalannya terhadap pemerintah lewat lagu-lagu Carpenter.

Gen Zgenerasi yang embracing relatabilitymenunjukkan bahwa berita politik tak melulu harus disampaikan secara serius dan formal, namun berita itu dapat dibahas melalui konten di media sosial yang kreatif. Pemakaian lagu yang sedang populer dapat membantu pemahaman pengguna internet yang chronically online dalam menerima informasi politik. Lewat konten seperti inilah, warganet tahu bahwa kesadaran politik dapat dibangun dengan cara yang menarik. Warganet juga tahu bahwa politik bisa terasa personal dan perasaan bisa jadi politis.

 

Referensi:

Cambridge Dictionary. (n.d.). Man-child. Diakses dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/man-child

shei (@kyboko). (2025, 5 September). “manchild” [cuitan]. Twitter. Diakses dari https://x.com/kyboko/status/1963792155379671307?t=sLLXm6nqxl1ytRo3ulgdgg&s=19

Cambridge Dictionary. (n.d.). Corrupt. Diakses dari https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/corrupt

Tim RS Pondok Indah. (2025, 27 Mei). Mengenal PTSD: Gangguan Mental yang Dipicu oleh Trauma. RS Pondok Indah. Diakses dari https://www.rspondokindah.co.id/id/news/ptsd-gejala-penyebab-penanganan

Wahyudi, M. A., Rahmadhani, M. V., Mu’is A., & Evelyna, F. (2025). The Impact of Short-Form Video Marketing, Influencer Relatability, and Trust Signals on Gen Z’s Purchase Intention. International Journal of Business, Law, and Education, 6(1).

Magdalene (@magdaleneid). (2025, 11 September). “Ada yang lagi dengerin Nobody’s Son dari Sabrina Carpenter?” [unggahan]. Instagram. Diakses dari https://www.instagram.com/p/DOdMcLHEe4N/?img_index=1&igsh=MWJkMjV1c2x1b2duMQ==

Marzano, Erika. (2024, 1 November). Relateable, real, raw: TikTok’s power in news for Gen Z. The Fix. Diakses dari https://thefix.media/2024/11/01/relatable-real-raw-tiktoks-power-in-news-for-gen-z/

Ramadhani, Agnes. (2024, 17 September). Kenapa Lagu Galau Sangat Relate Didengarkan Saat Sedih. RRI. Diakses dari https://rri.co.id/hiburan/980735/kenapa-lagu-galau-sangat-relate-didengarkan-saat-sedih

Komentar