kemarin, kubersihkan catatan lamaku yang telah usang. kubaca kembali elegi-elegi tentang Desember itu yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun. Februari segera tiba, saatnya kuucapkan selamat tinggal 'tuk Januari yang berantakan.
aku masih ingat kabut macam apa yang mengganggu langitku saat itu. kabut yang melukisku dengan warna biru, kabut yang tak mengizinkanku menghirup udara tenang.
kuberdiri melihatmu yang ada di jauh sana. elegi dalam kepalaku tak tahu cara menulismu selain pada tiga larik ini:
"kau terlihat seperti lagu yang belum selesai kudengar,
kau terlihat seperti film yang belum selesai kutonton,
dan aku menyerah sebelum menyelesaikannya."
sendiri, kulari di hutanku, mengamati pohon-pohon yang telah ditebang. bertanya-tanya siapa gerangan yang tega menebang itu semua? bukankah kau pelakunya? aku terlalu sibuk bertanya tanpa menyadari bahwa jawabannya ialah aku yang menebang, bukannya kau.
laut adalah tempat di mana aku tenggelam dengan 500 pikiran buruk. laut itu sungguh dalam, membiarkanku terus tenggelam, menyusuri kegelapan demi kegelapan. aku tak kuasa meminta tolong.
namun terima kasih, Matahari. sinar lembutmu memelukku hangat seraya berkata, "tak ada yang salah. bertahanlah, nanti hari ini 'kan menjadi masa lampau."
putihku datang berdamai dengan hitamku, membangunku satu per satu layaknya lego yang disusun. sebenarnya aku masih takut 'tuk memulai kembali, tapi karena aku sudah terlalu lama tenggelam, mungkin sudah waktunya aku berani meninggalkan laut.
kembali, kulari di hutanku. pohon-pohon yang telah ditebang itu tergantikan dengan pohon-pohon baru yang bahkan lebih hijau.
kuberdiri dan melihatmu lagi yang masih ada di jauh sana. kau tak banyak berubah seperti yang kukhawatirkan sebelumnya. namun, tak ada yang bisa kulakukan selain menitipkan doa pada Sang Pencipta Matahari.
langitku memberi sambutan. warna biru perlahan memudar, lukisan itu tak abadi. kabut memang tak berjanji akan hilang selamanya, tapi ia mengizinkanku menghirup udara tenang hari ini.
kututup catatan lama itu, kusimpan dalam rak bukuku yang sebagian tubuhnya sudah dimakan rayap. tak kusesali rayap-rayap yang ada karena tanpa mereka, aku takkan tahu sekokoh apa rak bukuku berdiri.
Feb '21
Komentar
Posting Komentar